

Saya kira, beragam penyair, beragam pula persepsinya tentang kejahatan korupsi, dan beragam pula pilihan tema-tema yang mereka tulis. Alangkah luasnya. Dalam jilid 3, kampanye anti korupsi memasuki level pelajar, dimana memuat puluhan karya-karya puisi dari kalangan pelajar. Sebuah gagasan yang cerdas. Ke depan, agaknya gelora penulisan puisi harus terus menerus dilanjutkan, dan selanjutnya juga gelora pembacaan puisinya.
Kalaulah Road Show Puisi Menolak Korupsi terus menerus bergelora, di kota-kota, di desa-desa, di sekolah-sekolah, di kampus-kampus, di rumah-rumah ibadah dan sekaligus menjadi gerakan budaya yang massiv maka paling tidak persepsi perilaku korupsi sebagai sebuah kejahatan yang dapat merubuhkan sebuah bangsa, dapat dibangun dan tentu saja dengan demikian dukungan moral untuk KPK dan aparat penegak hukum lainnya akan memuluskan bangsa ini menjadi bangsa yang lebih bermarwah.