Esai : Menyalakan Kembali Api Perlawanan – Husnu Abadi

MENYALAKAN KEMBALI API PERLAWANAN

Budi  Lukah Gilo  Hermanto Ediruslan

Oleh : Husnu Abadi

Ketika saya diingatkan kembali akan janji saya untuk menulis sebuah pengantar bagi kumpulan puisi Lukah Gilo secara tak sengaja, saya menemukan kembali foto copy sebuah buku kumpulan puisi berjudul Potret Pembangunan dalam Puisi,  karya WS Rendra, diterbitkan oleh Lembaga Studi Pembangunan, Tahun  1980, Jakarta. Pada halaman dalamnya saya melihat catatan tulisan tangan saya yang berbunyi….buku ini merupakan foto copy dari buku aslinya, yang di kota ini, katanya, hanya dimiliki oleh Bung Ediruslan pe Amanriza. Difotocopy tgl. 1 Januari 1983, hari Sabtu, jam 13.15 WIB disaksikan oleh Fakhrunnas. Beaya fotocopy Cuma Rp 1.500,– ……. Pada halaman  itu juga tertera tandatangan Ediruslan Pe Amanriza (P. Baru 8/11 1980).

Apa gunanya saya mengisahkan kisah lama ini? Pertama, pada Tahun 1983, ketika saya masih menjadi mahasiswa pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau, yang sedang puber dengan kegiatan sastra, bersama rekan saya Fakhrunnas, di tahun baru, berkunjung ke rumah penyair Ediruslan Pe Amanriza di daerah Jalan Tanjung Datuk, Rintis, Pekanbaru. Sebagai penyair muda, begitu banyak orang menyebutnya, salah satu ritual yang mesti kami lakukan adalah berkunjung dan berkunjung kerumah para penyair yang telah lebih dulu berkarya dan telah diakui sebagai penyair nasional. Untuk apa? Ya untuk belajar dan belajar…… Foto copy buku itu, telah berusia 32 tahun……. Atau saya sebut peristiwa itu, peristiwa 32 tahun kunjungan kami ke rumah Bang Ediruslan Pe Amanriza, termasuk tonggak-tonggak yang ikut serta memberi warna kepada pribadi kami dan kepada karya-karya puisi kami.

Kedua, selepas 32 tahun berlalu, ternyata putera kandung Bang Ediruslan Pe Amanriza, yaitu Budi Hermanto menemui aku, untuk sesuatu yang tidak kukira sebelumnya. Saya mengenalnya beberapa tahun lalu, ketika Budi menuntut ilmu di Program Magister Ilmu Hukum Universitas Islam Riau. Sebelumnya dia menamatkan kuliah strata 1 pada Fakultas Ilmu Komunikasi UIN Suska dan kemudian mencoba untuk bertarung di dunia jurnalistik. Ketika memperkenalkan diri, pada suatu hari, barulah saya tahu, dia adalah putera dari sang penyair yang saya kagumi. Ketika sang Bapak, menjadi Ketua Dewan Kesenian Riau (DKR), tahun 2002, saya diberi kesempatan untuk membantu beliau dalam Komite Sastra, bersama Aries Abeba dan Hang Kafrawi. Sejak saat itulah, saya mengenalnya dengan aura yang berbeda. Namun terus terang, perkenalan itu, tidak memberi sinyal apapun bahwa Budi telah dan akan meneruskan bakat sang Bapak sebagai penulis puisi. Kekagetan saya akhirnya tiba, justru ketika di awal Februari ini, dia datang ke bilik kerja saya di Pascasarjana UIR, dengan menyodorkan satu berkas naskah puisi. Sejak kapan dikau menulis puisi ? Itulah pertanyaan spontan saya ………. Hal lainnya adalah, kenapa meminta pengantar kepada saya? Sebab, agaknya saya mestilah mengukur diri, masih banyak sastrawan yang lebih terkenal di negeri Taman Para Penulis ini……(Bustanul Khatibin).

Api Perlawanan. Saya jadi ingat sebuah puisi yang ditulis oleh Ediruslan Pe Amanriza di penghujung  hayatnya, ditengah-tengah suasana politik yang memanas, di tengah-tengah masyarakat daerah dan khususnya masyarakat Riau menaikkan suhu kemarahannya. Marah pada siapa? Marah pada pemerintahan pusat yang sangat menganak tirikan pembangunan provinsi Riau. Riau telah dijadikan sapi perahan oleh pusat, atau kalau dalam bahasa UU Hamidy: …….Riau hanya sebagai ladang perburuan…… Riau yang kaya raya alamnya, hanya diperas dan diperas, dan  membiarkan kemiskinan menjadi lagu keseharian rakyat Riau. Jalan-jalan antar kota yang rusak, hutan yang diserahkan kepada kaum kapitalis tanpa memberikan sentuhan kemanusiaan sedikitpun kepada warga tempatan………  Agaknya, amat pantaslah kalau Kongres Rakyat Riau memilih opsi merdeka sebagai opsi terbanyak, dibandingkan dengan opsi federal atau opsi otonomi……

Akan berpisah jua kita akhirnya, Jakarta/ dari negeri kami yang jauh/ kau terlihat semakin angkuh/tak tersentuh/ setelah 55 tahun bersama/ akhirnya terasa/masyarakat sejahtera/ yang tak berkering air liur diucapkan/ ketika kalian bertutur kata/ tak kunjung jua/ setelah 55 tahun bersama/nyatanya/ tak seharipun kami merasa bahagia/ hidup kami sepanjang tahun/ asyik dirundung duka nestapa/

         (Akan Berpisah Jua Kita Akhirnya Jakarta/ Ediruslan Pe Amanriza)

 Buah jatuh tak jauh dari pokoknya. Begitulah yang ingin saya katakan ketika membaca 29 puisi yang ditulis oleh Budi. Kalau saya menyebutnya dengan Api Perlawanan dari Sang Anak Muda , mungkin tidaklah terlalu berlebihan. Dari judul-judul puisinya saja sudah terlihat ada garis darah bapak yang mengalir kepada darah anaknya. Mari kita baca…….Orde Baru Dimana-mana/Apo Dayo/Lukah Gilo/Daulat Apa/Sahabat, Negeri yang Hilang/Desa Aliantan/Cuai/Pemimpin Zalim/Pusara Tak Bernama/Duka Anak Negeri/Kaki Langit Tanah Rencong/Limbah Luka/Irak Digudam/Indonesia Ku/Maling keliling/Kebimbangan/Kehidupan/Imperium Tanah Melayu/Proton Melayu/Bagi negeri kami Pulau Tujuh/Membaca Jakarta/

Saya akan  kutip beberapa bait dari beberapa sajaknya, untuk memperlihatkan itu semua.

Orde Baru sampai kini masih dipuja/bergentayangan/dimana-mana// pada uang koleksi/perangko/gambar/ pada dinding-dinding rumah kaca/juga pada`pemuja// orde baru tinggalkan/kain buruk sama kami/untuk mengapus/air mata reformasi// (ORDE BARU DIMANA-MANA, 1999)

Cuai/dalam duka ku/sudah lama menangguk pilu/mengayuh beratnya derita rakyatku/mimpi menyebarkan benihnya impian/yang tak kalah indahnya dengan Jakarta//apalagi yang bisa kita hargai dari sebuah mimpi/menjelma wujud puaka/Oh Jakarta. Kami tak lagi rindu padamu/pada senyum pahitmu/ pada angkuhmu/ yang cuai/yang cincai-cincai buat penguasa// (CUAI 2002)

Lautan minyak/bergelombang/di perut bumi/menghempaskan mimpi-mimpi/yang tak henti//kini di riau/ mereka tak mampu lagi/membasuh/luka kami anak negeri/hingga senja menjemput kami pulang/gelapnya tak terbayang/Caltex pun semakin curang//(DUKA ANAK NEGERI 2004)

Luka dari negeri kami yang kaya/limbahnya tumpah ruah/mengotori sungai/air wuduk kami/periuk nasi kami/tempat bermain kami//..…/luka dari negeri kami yang kaya/begitu jauh kami berjalan/setelah menoleh ke belakang/negeri ini menjadi limbah luka/anak-anak kami//lihatlah nanti di desa kami kota duri/semua mati hidup kembali//(LIMBAH LUKA 2005)

Namun ada beberapa puisi yang saya bayangkan bisa memberikan rasa  humor karena Budi membawakannya dalam bahasa daerah yang kental, dengan logat yang khas….agak berbeda dengan bahasa Melayu seperti yang dipakai sehari-hari di Bengkalis atau pun di Malaysia. Menurut saya, keberanian Budi untuk menuliskannya dalam bahasa lokal yang khas, akan memperkaya khazanah perpuisian dalam bahasa lokal. Hal ini mengingatkan saya pada sejumlah penyair di Jawa Tengah yang mencoba membuat antologi dengan mempergunakan bahasa lokal setempat. Kalau Budi bersedia secara tekun mengolah dan merawat bahasa lokal dan dialek lokal, saya kira hal ini akan menjadi kekuatan tersendiri bagi Budi. Boleh jadi nantinya, Budi akan menjadi penyair yang berbeda dengan penyair-penyair lainnya, termasuk dengan ayahnya, Bang Ediruslan Pe Amanriza.

Tak ado pinang/hari tak senang//tak ado boeh//mati koeh// tak ado sieh//tak meah di bibe//diba ak menu un/inyo tedolu//tak ado sakai/tak ado minyak/ ongkak dan kayu balak// (APO DAYO, 1999)

Lukah gilo/lukah gilo menai-nai/meliuk-liuk membolah angin/menghontak bumi/menai-nai/se copek kilek// lukah gilo/tak soba menanti/ondak menangkok/uyang/ ko ru p si// (LUKAH GILO, 2000)

Selamat  menyalakan terus  Api Perlawanan Budi Lukah Gilo H. Ediruslan…… (Taman Gurindam Pekanbaru, 18 Februari 2015)

Husnu Abadi adalah penyair tiga lautan, menerbitkan tiga kumpulan puisi (Lautan Kabut, Lautan Melaka, Lautan Zikir), kini masih menjabat Ketua BKKI Riau (Badan Kerjasama Kesenian & Kebudayaan Indonesia), dan bergabung dalam Komunitas Puisi Menolak Korupsi (PMK),  sering mengikuti acara pertemuan penyair (terakhir: Pertemuan Penyair Asia Tenggara di Cilegon, Road Show PMK di Tanjungpinang), pensyarah pada Fakultas Hukum dan Program Magister Ilmu Hukum UIR, menamatkan studi pada UUM Malaysia (Ph.D.), kini tinggal di Pekanbaru, alamat email: mhdhusnu@yahoo.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan