Kurikulum Merdeka, Berdandan dengan Sastra: Catatan Shafwan Hadi Umry

42

Bahasa ibarat ‘pakaian’ yang dipakai oleh pikiran kita. Ada orang yang cakap berdandan dan ada yang tidak. Demikian pula ada orang yang fasih berbahasa dan ada yang tidak.

Dalam hal bahasa Indonesia kaum gurulah yang termasuk pembina pendapat umum. Kaum gurulah yang banyak yang mendandani siswa dan murid sekaligus memainkan peranan dalam penentuan baik buruknya penggunaan bahasa Indonesia. Maka kalau kita sering mendengar keluhan orang tentang buruknya bahasa Indonesia yang digunakan siswa, sudah waktunya guru mawas diri dan memperhatikan bahasa Indonesianya sendiri yang selalu dijadikan model berbahasa bagi siswanya.

Demikian pula halnya apabila seorang pejabat berbahasa dan menjadi model panutan para bawahannya dengan menggunakan bahasa tinggi dan sukar di mengerti rakyat, maka perlu sekali model atau acuan bahasa pejabat itu diperbaiki.

Rocky Gerung pernah menyoroti dengan serius bagaimana para pembicara dalam seminar dan sarasehan banyak menggunakan bahasa Ingris dibandingkan dengan Bahasa Indonesia. Para generasi mahasiswa yang kurang paham bahasa Inggris yang dpiakai narasumber (yang lupa bahwa ia berada di Indonesia) tidak berani menyampaikan pertanyaan atau memanfaatkan peluang berdiskusi denan para pembicara. Peserta seminar pada akhirnya menunggu sertifikat seminar sebagai tanda bahwa ia ikut dalam kegiatan tersebut.

Dalam era informasi media digital dewasa ini, bahasa merupakan sarana komunikasi yang penting untuk menumbuhkan partisipasi segenap lapsan masyarakat . Kalimat yang berbunyi, “Dalam konteks pembangunan perlu konglomerat berpartisipasi, dan kerjasama itu sudah go public dalam rangka deregulasi dan debirokratisasi”, merupakan kalimat yang sulit dipahami dan dimengerti terutama rakyat sebagai sokoguru pembangunan bernegara.

Pelajaran bahasa Indonesia yang dipisahkan dengan pelajaran sastra dalam kurikmlum merdeka diharapkan merangsang murid berpikir dan mengasah intuisi sebagai upaya meningkatkan mutu penggunaan bahasa Indonesia. Namun, bila guru bertumpu mengajarkan tatabahasa saja tanpa mengintegrasikannya dengan sastra yang bernuansa humor, dapat dikatakan pelajaran itu bisa membosankan.

Berita Lainnya

Kris Briantoro (sang biduan di masa Orde Baru, 2005) pernah menulis tentang cara mengajarkan bahasa Indonesia yang lebih menarik dan bersuasana humor. Kris masih ingat salah satu ceritanya. Coba baca berikut ini:

“Ada seorang China yang berasal dari desa, dia bosan menjadi petani, dia ingin menjadi pedagang di Jungceng (pecinan). Dia melamar, terus diajarkan begini: kamu sekarang jual sepatu, nanti kalau ada pembeli kamu bilang, ‘sepatu ini luar negeri punya, ini kuat sekali, teman saya pakai sudah tiga tahun tidak rusak. Saya dengar di sana juga jual sepatu, tapi kelasnya, kelas dua nggak seperti ini. Saya dengar sebentar lagi sepatu ini sudah akan habis karena kita harus tunggu dari luar”. Terus pegawai itu bilang, “oh, itu kan menipu”. “Kalau anda tidak bisa menipu jangang berdagang”.

Pada teks percakapan di atas gramatika bahasa dikembangkan. Kris mengkritik metode pengajaran di sekolah. Menurut beliau gaya atau sistem memberikan pelajaran harus diubah. Bahkan tidak ada salahnya kita meniru dari negeri orang seperti pelajaran bahasa China yang memakai short story yang membuat murid bergairah mengikuti pelajaran.

Menurut pakar pendidikan bahwa kurikulum mata peajaran bahasa Indonesia di sekolah menengah adalah kurikulum yang berpusat pada tematik dan integratif, seperti saran Kris Biantoro. Kuikulum ini dapat dijadikan salah satu solusi yang positif dalam meningkatkan kecintaan orang terhadap bahasa Indonesia.

Pada teks percakapan di atas gramatika bahasa dikembangkan. Kris mengkritik metode pengajaran di sekolah. Menurut beliau gaya atau sistem memberikan pelajaran harus diubah. Bahkan tidak ada salahnya kita meniru dari negeri orang seperti pelajaran bahasa China yang memakai shory story yang membuat murid bergairah mengikuti pelajaran.

Sehubungan dengan pemberlakuan kurikulum Merdeka yang dicanangkan Nadien Makarim (yang kini selesai tugasnya selaku Mendikbud) dapat diteruskan kesinambungannya oleh Menteri Pendidikan RI Kabinet Merah Putih .
Kini posisi bahasa Indonesia lebih keren dan bermartabat setelah UNESCO (Mei 2025) mengakui Bahasa Indonesia yang kesepuluh sebagai Bahasa yang disimpan di badan dunia itu sekaligus menkadi bahasa pengantar di forum PBB.*

Penulis dosen dan sastrawan tinggal di Medan

 

 

 

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan