Meditasi Laut dalam Antologi Jazirah Sastra: Catatan Shafwan Hadi Umry

190

Tradisi yang kuat dalam puisi alam Melayu adalah bersifat ruang spasial yang mengajak pembaca untuk membina persona atau perseorangan sebagai partisipan yang hadir dalam ‘perahu penyair’. Puisi alam kemelayuan adalah puisi yang bernuansa ‘syariah’ berpijak di laut. Pada ruang maritim bersifat horisontal, kesamaan dan demokrasi yakni tidak mengenal kelas vertikal puisi dalam jenjang atas bawah melainkan kesamaan dan kesetaraan dalam dialog dan kesepahaman.

Sudah tentu panorama laut sebagai kekuatan dasar puisi maritim mengandalkan pesona laut dengan segala peralatan puitik yang dipakai sang penyair untuk menyampaikan pesan kearifannya.

Begitulah yang terbaca pada sejumlah puisi yang terhimpun dalam antologi  “Laut dan Kembara Kata-kata” (2022).
Puisi (1) yang tampil mengensankan yakni upaya merebut kata sebagai alat ungkap yang tepat terdapat pada puisi Badarudin Amir: Transenden (hal. 60)

Kau tawarkan aku lautan maha rahasia
Kau tawarkan aku belantara pepohonan purba
Dan kesibukan kota yang tak habis terurai
Lalu kau memintaku membaca tanda-tanda
Padahal aku telah penat berladang kata-kata

Puisi (2) ditulis oleh Bambang Kariyawan, “Kupungut Kata dalam Asin Lautmu
Di atas perahu ini kupungut asinmu
Bersama kecipak arus yang terbuai angin
Darinya kutemukan berbaris kata tentang lautmu
Penyair Bambang meneruskan ‘perahu puisi’nya dengan kata-kata:
Kali ini kita hirup kata-kata bersama
Bergurindam di atas perahu yang terus berlayar
Menuju pulau yang telah teramat asin menelan kata-kata

Puisi (3) Berthold Sinaulan tak ketinggalan menyumbangkan puisi yang bertajuk, “Tangkahan dari Laut
Melanggar Joran menangkap huruf berlaksa
Mencocokkan dan mengaturnya jadi kata
Lantas kalimat berjiwa penuh makna

Puisi (4) ditulis seorang guru Bunda Swanti yang menampilkan sosok dan sejarah pantai atau pesisir sebagai wilayah peradaban/tamadun.

Berharap agar angin tidak lagi berseteru dengan ombak
Agar pantaiku selalu asri berjajar di sepanjang tepian
Tanah tamadun
Sebagai prasasti ada debur ombakmu isyarat cinta
Mendayung cinta

 

Berita Lainnya

Pengembel: Cerpen Rusmin Sopian

Puisi (5) disampaikan Christya Dewi Eka dalam puisinya “Tentang Laut yang Menanam Kata
Kali ini

Dibawanya seluruh cinta, rindu, sendu, dan dendam
Tenggelam ke haribaan paling dalam
Lebur bersama pusaran air
Yang menuju ke satu pusat
Entah berapa ratus kalam tereja dan geliat geloranya
Namun tidak satupun menyentuh fana
Kepada laut
Kutanamkan berjuta kata
Semoga tumbuh berbagai cerita
Tanpa jeda

 

Puisi (6) di tulis Datuk Rida K Liamsi :

Puisi bertajuk: “Dayangku Laut” adalah sebuah pesona protes sosial yang terbentang sekaligus tenggelam dalam dunia maritim. Sejak kebijakan pemerintah Orde Baru membelakangi laut, dunia maritim kita tak bernakoda. Secara faktual, bandar-bandar pelabuhan tradisional menjadi kawasan tinggal terburai. Rumah-rumah burung , jalan yang tua kehilangan aspal dan ekonomi rakyat nyaris melarat.

Penyair Rida K Liamsi meminjam ’dayang-dayang’ yang di masa hikayat 1001 malam cukup senang, kini pada kehidupan nyata, dunia nelayan semakin sengkarut dilindasi oleh perubahan zaman. Program pemberdayaan nelayan tersingkir dan terpulau.

Penyair dalam puisi ini menyampaikan senandung puitis dengan nada sinisme dan ironika putika mendominasi setiap diksi puisi tersebut. (Lihat Puisi Rida secara utuh dalam Antologi  “Laut dan Kembara Kata-kata, 2022).

Saya selaku pengamat sastra merasa teruja dan mengagumi gaya puisi Rida yang dirawat tanpa bernada dendam dan kebencian. Ia begitu bijak memandang laut dan pesona dunia maritim untuk mencurahkan perasaan dan pikirannya kepada pembaca.

Demikian diturunkan puisi para penyair di atas yang terhimpun dalam sebuah antologi pada Festival Sastra Internasional Gunung Bintan Tahun 2022.

 

*Penulsi dosen dan sastrawan tinggal di Medan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan