

Teori sosial kritis membedakan masa lalu dan masa kini dan secara umum ditandai oleh dominasi, eksploitasi, dan penindasan. Suatu masa depan akan meruntuhkan fenomena ini. Dia menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan berpendapat bahwa potensi masa depan yang lebih baik telah ada di masa lalu dan masa kini. Peran teori sosial kritis bersifat politis karena dia berpartispasi dalam mendorong perubahan sosial.
Teori sosial kritis berkeyakinan bahwa perubahan sosial dimulai dari rumah, pada kehidupan keluarga, tempat kerja, dan dunia percintaan.
Dengan terfokus pada hubungan dialektis antara kehidupan sehari-hari dengan struktur, teori sosial kritis berkeyakinan. bahwa manusia bertanggung jawab atas kebebasan tanpa menindas sesamanya atas nama kebebasan jangka panjang. Teori sosial kritis menolak pragmatisme.
Teori sosial kritis sebagai teori modern sastra tidak seharusnya ditumbuhkan dari fenomena sastra modern. Yang modern adalah teori, bukan sastranya. Umar Yunus (1996) mengatakan,”yang baru pada teori modern sastra ialah teorinya, penemuannya, bukan bahannya“. Setiap unsur berpotensi untuk menginformasikan sesuatu. Yunus kembali menegaskan, “Selalu ada yang terlupa, yang luput dari perhatian. Selalu ada unsur yang dalam satu pembacaan belum berbicara apa-apa kepada kita” (ibid).
Pada teori modern, orang dihadapkan kepada dunia tanpa kepastian, dunia dialog antara berbagai-bagai interpretasi. Teori adalah sebagai prasarana dalam usaha menginterpretasikan suatu teks.
Hakikat pemahaman terhadap sajak bertujuan untuk (1) mengetahui permasalahan sosial dan kemanusiaan dengan menggunakan teori sosial kritis (2) menelaah beberapa sajak/puisi sebagai contoh dengan mengunakan pendekatan sosial kritis
Teori yang dipakai dalam menelaah puisi karya Kondar Situmorang (dosen dan penyair Sumut) di bawah ini menggunakan pendekatan sosial kritis yang dikembangkan Ben Agger. (2003)
Telaah Puisi
Dalam menelaah puisi Kondar Situmorang (lahir di Pakkat 3 Juni l937 Samosir) kita dibawa oleh penyair bagai seorang supir yang membawa penumpang menjelajahi tamasya wisata yang menyenangkan sekaligus memprihatinkan. Adakalanya penyair menjelaskan ‘sesuatu‘ yang belum terjelaskan bahkan sebaliknya penjelasan itu sudah ada di benak masing-masing dalam diri kita.
Lihat itu
Kupu-kupu yang cari madu
Menari-nari dari bunga ke bunga
Seisi perut, itulah harta dunia
untuk itu hatinya penuh syukur dan bahagia
sedang kita menguras dan meraup tanpa nуаnа
lalu mewariskan dunia yang lebih merana
(Kenangan)
Sebagaimana dalam teori sosial kritis ia bermula dari dunia keluarga, dunia rumah tangga, dan bahkan dunia percintaan Dalam hal ini manusia dituntut harus bertanggungjawab untuk mengatasinya. Puisi tentang “Risau Hatiku” penyair berbicara tentang masa depan kanak-kanak yang sulit diramalkan. Kita kutip puisi tersebut;
kucium pipinya yang segar
tembam dengan pipiku yang
keriput tangan yang halus,
lembut, kugenggam dengan
jemariku yang telah kisut
banyak tanya muncul dariku
yang telah bertumbuh kekar,
cekatan memainkan clurit dan
belati membagi tusukan dan
sayatan untuk sejemput duit,
sesuap nasi
Penyair K. Situmorang mampu mengajak pembaca menghayati alam kampung dan suasana desa yang makin terlupakan oleh orang masa sekarang;
dalam keremangan subuh
kedatanganmu mengumandang
oleh unggas di sarang
dan jago di kandang
dalam kesejukan pagi
kau bisiki kuntum di taman
kau bangunkan kecambah di tanah
dan bangkitan semai di ladang
Pada teori sosial kritis sejumlah sikap eksploitasi terhadap alam yang dilakukan manusia dengan bantuan teknologi dilihat secara mendua oleh penyair. Di satu pihak dikagumi dan pada pihak lain dikecam.
Dengan teknologi
Kurajut otot dari besi dan baja
Kuanyam paru yang bernafaskan asap dan api
Kubentuk jantung yang membagi tenaga
Melalui jaringannya kabel dan urat nadi
(Dengan Ilmu dan Teknologi)
Pada puisi ‘world trade centre’ (tragedy WTC 2001) penyair menyindir kesombongan ilmu yang lepas dari kalbu manusia;
Banggalah hai ilmu dan teknologi
Kami telah melampaui jangkauan mimpi
Namun di sana ada sekepal hati
Yang terabaikan, liar, lepas kendali
Jayamu berakhir dengan tragedi
Dunia percintaan tak luput juga dari pengalaman penyair. Ia menulis terhadap kekasihnya;
Sayangku,
Bila kelak kau teringat akan daku
Di sana kenanganku kau temu
Di sana rindumu kutunggu
(Di Sana Rindumu Kutunggu)
Puisi Kondar Situmorang mencerminkan peristiwa sosial sehari-hari terkadang diramu dengan warna lokal dan global. Pengucapan yang digunakan memunculkan gaya paradoksal, tetapi masih dibaluti kata-kata yang seharusnya dapat dipadatkan. Inilah salah satu ‘kelemahan’ puisi-puisi bernuansa tamasya (penyair sibuk menuliskan kata-kata tanpa mempedulikan lagi pilihan dan pemadatan baik dari segi arti dan bunyi).
Seperti sajak “Risau Hatiku” di atas. Semestinya, ia berusaha menggunakan gaya pertentangan/paradoksal (yang segar tembam-yang kisut, yang halus lembut-yang telah keriput). Gaya ini bisa dipadatkan lagi dengan: kucium pipinya yang tembam/dengan pipiku kisut/tangan halus lembut/dengan jemariku keriput.
Di antara sejumlah puisi ini, sebuah puisi yang bertajuk “Oasis Hijau” merupakan puisi yang terkuat dalam kumpulan Tembang Petang. Kita turunkan puisi ini secara lengkap;
Di sana gaduh dan resah dunia tidak sampai
Terik dan badai gurun tidak mengganggu
Berat dan beban tidak menekan
Di oasis hijau, di relung hatiku
Dari penat dan takut, panas dan hujan
Ke sana aku berlindung
Dari cemas dan murka, resah, dan duka
Ke sana aku bernaung
Di oasis di hatiku ada taman kesayangan
Di mana Sulaiman dan Milton membakar dupa
Shakespeare bercanda dengan jelita-jelita remaja
Dan Wordsworth meniti pelangi berkalung bunga
O, di hatiku ada oasis hijau
Di sana ada taman kesayangan
Puisi ini tampil menawan dengan gaya romantik yang berkaitan dengan alam. Penyair seakan-akan sadar “depuitisasi alam” harus dihindarkan oleh karena alam adalah santapan batin yang menghadirkan keindahan puisi dan dapat dijadikan suaka dan perlindungan. Dari alam yang terbuka penyair dapat memindahkannya ke alam hati-suatu jagat kecil yang dikelola kembali dengan suasana istirahat yang bersyukur. Dalam alam hati adalah alam suaka tempat manusia berlindung dari serangan kecemasan dan kegelisahan.
Kondar Sitimorang seorang dosen Sastra Inggris Universitas Methodis Medan telah ikut menyumbangkan puisi-puisinya dalam khazanah kesusastraan Indonesia modern. ***
*Penulis: Dosen dan Ketua Satupena Sumatra Utara.