MERAMU KEHILANGAN DALAM BAIT-BAIT KISAH

94

Pernahkan kita merasa kehilangan? Bagaimana rasanya kehilangan? Sastrawan besar dunia Melayu, Datok Rida K Liamsi mendefinisikan kehilangan dalam bait-bait sajaknya:

Kehilangan adalah ingatan

Yang kerap  bangkit seperti butir air yang menguap

Kembali jadi hujan ketika kata-kata

Mengetuk kaca jendela dan kita menengadah

Ke langit, mendengar waktu berkata-kata,

Dan kita merasa ada sesuatu yang tak kembali,

Telah menjadi hujan yang menuliskan

Puisinya di jalan-jalan.

(Hai Maha Wai (12): Mengenang SDD).

Tulisan Terkait

Rempang: Husnu Abadi

Berita Lainnya

Catatan buku kumpulan cerpen “Ombak Penyesalan di Lautan” karya Heza Hera dari kota minyak ini sengaja berjudul “Meramu Kehilangan dalam Bait-Bait Kisah”. Dari 13 cerpen yang ditulis sebagian besar tokoh yang dikisahkan kehilangan secara fisik (baca: meninggal dunia) atau kehilangan dalam bentuk lain.

Pada cerpen pembuka yang berjudul “Tuhan, Ajak Corona Pulang” pembaca disuguhkan kisah kehilangan orang-orang terkasih karena virus Corona. Cerpen kedua “RIP Nathan” kembali pembaca disuguhkan tentang matinya (baca: kehilangan) seekor kucing kesayangan. Kehilangan tragis dapat kita baca cerpen “Hati Nan Suci di Batu Sangkar”, “Kutemukan Cinta di Matamu”, dan “Sahabatku Sayang, Sahabatku Malang”.

Kehilangan dalam bentuk lain berupa kehilangan sosok yang dalam pandangan “baik” di mata tokoh dapat kita baca cerpen “Gugun” dan “Aku Tulang Rusukmu”. Kehilangan dari pergi tanpa alasan dan kembali tanpa penjelasan pada cerpen “Lima Belas Tahun Tanpamu”.

Tema kehilangan dipilih penulis tentu dengan alasan tertentu. Secara umum ketika kehilangan akan selalu ada konflik sebagai sumber dan identitas utama dari sebuah cerpen. Alasan kausalitas (sebab akibat dari kehilangan) menjadi pembuka, tubuh, dan penutup cerita yang menarik untuk diramu. Belum lagi ketika kehilangan selalu ada tokoh-tokoh yang akan dibangun penokohannya. Ada penggalan menarik dari cerpen “Di Kala Cinta Menyapa“ yang memaknai kehilangan.

Aku teringat perkataan seseorang “Bunga mawar tak mekar dalam satu malam “, benar, semua ini butuh proses untuk menyudahi dan jadilah seseorang yang menghargai dirinya sendiri, tidak menyiksa diri dengan menenggelamkan kebahagiaan dalam lautan kesedihan. Tuhan menciptakan semua berpasangan, tak ada kesedihan tanpa kebahagian.  Pelangi yang indah akan hadir setelah hujan deras.  Warna warni ini aku yang cipta. Bukan dia, bukan dia yang telah pergi menghilang.  

Dalam kajian Sosiologi Sastra disebutkan bahwa latar penulis akan mempengaruhi karya yang diceritakannya. Tampak dari beberapa cerpen, penulis menyajikan latar dirinya sebagai latar dalam cerita. Sebagai seorang guru, bertempat tinggal di Kota Minyak dan Negeri Jelapang Padi”, dan kampung kelahiran alam Minangkabau. Salah satunya pada penggalan cerpen “Gugun”, penulis menyajikan tokoh guru dalam ceritanya.

Bagaimanapun guru adalah ujung tombak sebuah pendidikan. Penerus estafet pembentuk peradaban. Jika guru sudah tidak mampu membentuk karakter, apagunanya seorang guru lagi, karena yang pasti ilmu pun sudah bisa digantikan oleh  google.

Tema-tema yang disajikan masih seputar interaksi sederhana antar umat manusia. Perlu dikembangkan dengan tema-tema yang lebih menantang dan meneroka sesuatu di balik sesuatu perjalanan umat manusia. Riau dengan khasanah warisan budaya, tradisi, dan lingkungan yang terhampar adalah sumber ide tak bertepi dalam berkarya sastra.

Penulis cerpen ini sedang membangun sebuah kepingan kebesaran kembali Riau sebagai Negeri Shahibul Kitab. Kepingan yang akan mewarnai bangunan utuh kerlipan cahaya sastra Riau di kancah perjalanan sastra di negeri ini. Sebuah keyakinan bila penulis sabar dalam berproses, kreatif meracik tema-tema yang lebih besar, dan membangun jejaring bersama komunitas sastra maka padanya regenerasi sastra Riau akan berkelanjutan. Tahniah!

Bambang Kariyawan Ys, Sastrawan

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan