Misanthropos || Yusmar Yusuf

Setangkai kisah orang-orang yang terserbuk perilaku anti-sosial, sibuk memperdebatkan ibadah, sehingga tak sempat beribadah. Mempertengkar demokrasi, lalu tak sempat melakoni demokrasi itu sendiri. Impulsif? Entahlah. Yang jelas, kita didorong untuk berlombang-lomba membangun surga dan anak-anak tangga emosi, meledak-ledak dalam keriuhan tak bertepi. Merasa paling benar sendiri, membangun mahkamah rasionalitas sendiri, sembari mendesak kemajemukan hingga terdorong ke pinggir paling tepi. Tak setakat itu, rasionalitas, nalar dan kecerdasan mengalami keterdesakan maha dahsyat, sehingga ke ujung tubir, tempat segala turbin diputar dalam putaran paling linyak. Kecerdasan dan nalar harus berjuang untuk survive, ujar Nietzsche.

Setiap zaman melahirkan ruang spiritualitas masing-masing. Demikian pula, setiap zaman menghadirkan para psikopat untuk menghentikan sebuah keadaan yang stagnan. Mungkin dia hanya lalu-melintas sejenak dan berperan sebagai instrumen penyentak sesaat. Bahkan yang lebih perih, dia hanya hadir dan dihadirkan selaku alat (kits) semata untuk sebuah permainan panjang namun singkat. Setelah keluar dan diumumkan siapa pemenangnya, maka dia akan ditelikung di pangkal jalan oleh sang pemenang yang diusungnya itu. Begitulah sejarah berulang dan terus berulang. Pun, dengan beragam alasan, sejurus kemudian, datanglah sekumpulan demagog menurunkan defenisi; apakah yang menandai zaman ini? Dekade apakah saat ini? Jawabannya; emosi yang meluap-luap dan diledak-ledakkan dengan gaya semburan tiada jengah dalam situasi kemerosotan kualitas hidup dan kualitas lingkungan, termasuk kualitas kesehatan per individu. Jumlah akumulatif rangsangan yang terus-menerus didesak dalam kumparan yang saling berlilitan namun dinamik, rangsangan emosi dan tarik-menarik di antaranya; nasionalisme, anti-nasionalisme, populisme, kemandirian, oligarkhi, anti-oligarkhi, semuanya bukan demi nalar, tetapi lebih cenderungan ke pemupukan jenjang emosional yang tak bisa dipeluk. Kenapa tak bisa dipeluk? Karena berbeda dengan spiritualitas (vis a vis agama), agama bisa dipeluk karena di dalamnya terhidang ruang batin. Ideologi juga dipeluk, karena ideologi menyedia rumah batin, rumah kehangatan idealitas (yang abstrak).
Dekade yang ditumbuhi sarkasme gaya hidup, tak menyedia ruang batin tempat para bestari menyauk jernih air di lubuk. Pun, tak membuat para jauhari tergoda untuk melempar sauh di teluk nan teduh. Karena dekade ini hanya menghidang perairan yang bergelora dalam gempita angin; tak sakal, tak tambang ruang dan tak sendalu (nama jenis-jenis angin). Kita yang hidup dan bermastautin di atas pertiwi dalam lintang garis bumi 23.5 derajat ini (garis Jadayat) ditandai sebagai ruang bumi nan hangat dan menghangat. Namun kehangatan itu direbus kian emotif dan kompulsif sehingga dia menjadi ruang yang teramat gerah dan panas (haredang, kata orang Sunda). Sekali lagi, ya bukan demi nalar, tetapi lebih sarat oleh refleksi emosional. Tak terkecuali ideologi-ideologi juga tak lebih dari selubung transparan demi menutupi nafsu, kerakusan dan kekecewaan yang paling dungu sekalipun, kata Nietzsche lagi. Di sisi lain, pada detik yang sama kita dilambung-lambungkan dengan argumen-argumen pucuk ideasi; kebencian terhadap perang dan kecintaan akan perdamaian. Dan, pada saat yang sama, kita terjunkan sekumpulan serdadu melakukan perang proxy tanpa kenal gencatan senjata (karena pertarungan berlangsung selama 24 jam penuh). Apakah etape-etape ini memang harus dilalui oleh sebuah bangsa yang menuju matang?

Orang boleh saja menyebutnya sebagai upaya memberi ruang bagi berjalannya dif-dif kehormatan dialektika yang diperlukan oleh bangsa ini sehingga menjadi bangsa yang matang, kenyal, kawi, kukuh yang dirajut oleh jahitan dengan benang temali jerami teruji. Juga sengaja dibiarkan sebagai bagian dari masa penyerbukan silang (cross fertilization) yang amat diperlukan oleh sebuah bangsa sehingga dia menjadi bangsa yang besar (ranggi). Eropa telah melalui tahap ini ratusan tahun silam. Tak sedikit pecah revolusi; bedil, kuman, air mata dan hati yang rengat-berderai demi sebuah alasan perjalanan bangsa dalam gempita penyerbukan silang dialektika yang merupakan sebuah keniscayaan sejarah dan peradaban (harus dilalui). Demikian pula, Indonesia kian menjadi matang, kalau kita setia menjalani semua kenyataan ini dengan lapang jiwa, tapi tetap dalam kewaspadaan dan keniscayaan sebagai bangsa tropis yang tak mengenal akan kebencian kemanusiaan (misanthropos). Sebab, alam yang melahir kita adalah alam yang ramah dan lembab dalam lintang garis bumi selatan yang menghangat; sehingga tak melahirkan manusia-manusia yang berpembawaan anti-sosial, impulsif, namun sebaliknya berpembawaan rileks dan santai, karena negeri ini tak mengenal iklim yang ekstrim. Hanya menghidang dua suasana musim; hujan dan kemarau. Kala musim hujan tiba, terjadi penyerbukan produktif dan memperkaya pertiwi dengan segala warna-warni yang amat colorfull. Demikian pula, kala kemarau tiba, manusia tropika terdorong untuk senantiasa bersuka-cita dalam gairah selaku anak-anak muda yang harus keluar rumah mencari kelembaban-kelembaban alami dalam gaya serba joyfull. Alam kita, tak sempat mengajar bagaimana berdendam, mendendam atau bahkan menjadi seorang pendendam. Menampik dendam kesumat, tapi memutik dendam majenin kepada sang kekasih; apakah kekasih hati, atau malah Kekasih Spiritual yang selalu dialamatkan sebagai the Ulitimate Concern (Perhatian Puncak). Ketika dendam kesumat itu hanya tertumpu kepada the Ultimate Concern, sehingga perhatian-perhatian yang lain tak lebih bersifat perhatian pengantar saja.

Mungkin saja, saat ini kita tengah asyik bercanda dengan ragam perhatian pengantar itu; ya sebagai jawaban atas godaan Johan Huizinga bahwa manusia adalah makhluk bermain (Homo Ludens), yang bermain-main dengan segala ego dan alter-ego, sebelum mereka menemukan ego-altruist yang ada dalam diri setiap kebudayaan manusia. Semua itu terjadi ketika nalar tidak mengalami desakan pembodohan berjenang sebagaimana kerisauan Twilight of Idols and Anti-Crist (senjakala berhala dan anti-krist) Nietzsche. Dulu, dan dulu lagi, ada semacam kerisauan yang terbangun di kalangan agamawan, bahwa neurosis-obsesional adalah jalan lain untuk mencapai the Ultimate Concern itu. Ha?

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan