Mozaik : Boro Bodo

Foto stok gratis adat istiadat, agama, alam

Boro Bodo

Catatan Thomas Stanford Raffles dalam The History of Java (2014), menyebut Boro Bodo berada berada di sekitar Distrik Kedu. Dalam sejarah kepurbakalaan Indonesia, dataran Kedu dikenal sebagai tempat berkembangnya peradaban Jawa Kuno Dinasti Syailendra, dan merupakan daerah penting dalam sejarah Kerajaan Medang.  Boro  merujuk pada nama distrik Boro yaitu nama desa, sementara Bodo artinya kuno. Disebutkan bahwa Boro Bodo terletak di dekat pertemuan Sungai Elo dan Progo disebuah bukit di situlah dibangun candi ini. Dideskripsikan, ada sebuah bangunan berbentuk segi empat, dengan dinding tujuh tingkat, yang tiap-tiap tingkatnya semakin berkurang saat didaki hingga akhir bangunan yang bentuknya seperti kubah. Keseluruhan bangunan berbntuk kerucut dengan bagian atas terpotong hingga bagian dinding  dan untuk melengkapinya diberi figur pada seluruh struktur bangunan. Di bagian tengah bersandar pada bagian puncak bukit merupakan suatu kubah yang belum diterangkan dengan diameter urang lebih 50 kaki, dan itu tinggal reruntuhan dimana bagian atas telah runtuh, hanya tinggal 20 kaki tingginya. Pada bagian atas terdapat tiga menara dengan lingkaran berjumlah 22, tipa-tiap bagian terdapat gambaran (relief) dan semua dihubungkan sebuah batu yang menutupi bukit yang menampakkan bentuk atap. Di sekitar bangunan ini terdapat beberapa batu menyerupai bentuk manusia, diantaranya ada patung Brahma. Itulah sedikit deskripsi yang ditulis oleh Raffles tentang Borobudur yang ditulisnya sebagai Boro Bodo.

Oleh beberapa ahli menduganya dibangun sekitar abad ke 6, tetapi beberapa ahli menyebutnya dibangun di masa wangsa Syailendra. Terlepas daripada perdebatan itu, Boro Bodo adalah sebuah mahakarya nenek moyang bangsa Indonesia. Arsitek ternama, pemahat, perancang, dan pekerja dengan tingkat seni level atas telah menghasilkan sebuah bangunan monumental yang kemudian lebih popular dikenal sebagai  Candi Borobudur.

Dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia edisi 1993 yang ditulis Nugroho Notosusanto dkk., Candi Borobudur dibangun sekitar tahun 824M atau abad ke-9 oleh Raja Mataran dari Wangsa Syailendra bernama Sri Samaratunggadewa (824M), merupakan bangunan yang diperuntukkan bagi kepentingan upacara atau kegiatan agama Buddha. Candi ini dapat diselesaikan pembangunannya semasa pemerintahan Ratu Pramudhawardani putri Samaratunggadewa. Candi ini perisinya terletak tidak jauh dari Mungkid di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Bila ditempuh dari Yogyakarta, akan menghabiskan waktu sekitar  satu setengah jam perjalanan. 

Adalah Sir Stanford Raffless yang masa itu menjawab Gubernur Jenderal Inggris atas Jawa (1814) menyadari bahwa bangunan ini merupakan sebuah karya maha tinggi yang dibangun pada masa kejayaan wangsa Syailendra. Saat pertama kali ditemukan, candi ini memprihatinkan  tertimbun longsoran tanah dan banyak tumbuh tanaman liar. Berkat kerja keras dan tangan dingin Raffles, akhirnya mulai terkuak misteri bangunan candi terbesar di Pulau Jawa ini.

Bila kita amati struktur bangunan candi Borobudur, maka kita akan menemukan susunan bongkahan batu yang pada masa sekarang ini dianggap berukuran besar. Batu batu besar dengan ukuran yang tidak biasanya tersusun dengan rapi dan mampu mewujudkan sebuah bangunan arsitektur seni tinggi. Dalam beberapa diskusi dengan teman peminat sejarah, saya pernah ungkapkan bahwa ketertarikan saya terhadap candi ini adalah pada cara membangunnya. Dengan pendekatan imajiner, saya menguraikan bahwa sistem pembangunan candi Borobudur bukan  dibangun dengan tahapan biasa; dimulai dari pondasi dan diakhiri dengan stupa tinggi. Kalau itu dilakukan, saya meyakini pada masa itu tenaga manusia amat sangat terbatas karena harus menempatkan batu batu tersebut ada ketinggian dan sudut yang rumit. Saya mencoba menganalisisnya dengan paradigma antithesis terhadap sistem pembangunannya.

Keyakinanan saya bahwa sistem pembangunan candi Borobudur justru modelnya terbalik; dimulai dari stupa tertinggi hingga lantai dasar yang melebar. Pernyataan ini saya ungkapkan didasari beberapa alasan terhadap pengalaman pengamatan dan pendekatan imajiner, bahwa  candi Borobudur terletak di pertangahan bukit. Sebagai bukti pendukung, candi ini pernah tertimbun longsoran tanah dan dibersihkan oleh Raffles saat menemukannya. Kedua, candi Borobudur tidak memiliki ruang semedi atau kamar luas untuk tempat tinggal para biksu. Ruangan meditasi ukurannya relative kecil. Ini sebagai konsekuensi dari rumitnya memahat batu cadas besar untuk membentuk ruang terbuka. Hal lain yang mendukung tesis saya ini adalah letak Borobudur yang berada (termasuk jajaran) di lereng  Gung Slamet. Oleh proses waktu, adanya bencana alam seperti letusan gunung, banjir, dan tanah lonsor menjadikan struktur tanah disekitar Borobudur berubah. Kondisi yang terlihat sekarang tentu telah mengalami perubahan berarti akibat pertambahan penduduk, aktivitas pertanian dan lain hal.

Borobudur terletak secara geografis Candi Borobudur dikelilingi oleh Gunung Merapi dan Merbabu di sebelah Timur, Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah Utara, dan Bukit Menoreh di sebelah Selatan, serta terletak di dekat dua aliran sungai, yaitu Sungai Progo dan Elo. Hal ini semakin menguatkan posisi tesis saya tentang sistem pembangunan Borobudur mengacu pada mode piramida terbalik. Artinya pengerjaan awal adalah stupa tertinggi yang diinginkan. Jika preposisi ini benar, maka ketakjuban ada pada arsiteknya yang mampu menuangkan imajinasinya. Semoga sepakatlah kita bahwa suatu mahakarya yang dilahirkan terkadang tidak serta merta dengan ide biasa melainkan ide yang tidak biasa dipikirkan orang lain. Borobudur adalah sebagai perwujudan atas penguatan argumentasi saya terhadap antitesis.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Erwin mengatakan

    Mantap, jadi tahu sejarah boro Budur, dan logis cara membangun candinya