Presiden baru memilih Lady Gaga untuk menyanyikan Lagu Kebangsaaan Amerika. Sebelum pelantikan ia bersama First Lady dan para politikus secara bi-partisan bersama berdo’a di Katedral St.Mathew, Washington. Pada pelantikannya datang mantan Presiden Obama, Clinton dan Bush. Begitu juga para musuh-musuh politiknya yang sampai sebelum Biden dinyatakan terpilih sebagai Presiden AS mereka masih menyerangnya. Termasuk Wakil Presiden Mike Pence yang diminta untuk digantung oleh penyerbu Capitol.
Demokrasi Amerika memungkinkan dua kubu yang bermusuhan secara politik bisa segera berkomunikasi lagi secara publik.
Presiden Biden mempunyai tugas berat sekali untuk menyembuhkan luka-luka akibat perpecahan bangsa Amerika yang makin dalam di bawah Trump. Sungguh suatu masa yang penuh ketegangan dan konflik besar. Tidak heran dalam pidatonya bertema Call of Unity Biden sering menyebutkan pentingnya rekonsiliasi dan persatuan nasional. Sebagai seorang politikus kawakan yang lama menjadi anggota Parlemen dan delapan tahun sebagai Wakil Presiden mendampingi Obama beliau memiliki modal yang besar.
Namun sekaligus Presiden juga harus segera memenangkan perang terhadap virus Corona dengan segera melakukan vaksinasi terhadap seluruh penduduk Amerika. Dia juga harus menjaga supaya ekonomi tetap kuat karena bila Amerika batuk berat dunia bisa sakit.
Di hari pertama, meskipun posisi Kabinet masih banyak kosong Presiden Biden akan mengumumkan Executive Order yang mengubah semua keputusan Trump. Saya catat beberapa yang penting: USA akan kembali mendukung Paris Accord tentang perobahan iklim, kembali lagi menjadi anggota WHO, mengembalikan hubungan baik dengan dunia Islam, lebih mengutamakan kerjasama multilateral tidak lagi bilateral dan juga sistem bantuan kesehatan USA yang populer disebut Obama Care.
Jam 23.48 Presiden disumpah dengan injil keluarga. Pukul 11.52 Presiden Biden mulai pidatonya. “Democracy is precious, democracy is fragile but now democracy prevails”. Syukurlah semua acara pelantikan berjalan lancar dalam damai. God Bless America.
Satu tahun sebelum Reformasi saya menulis bahwa Indonesia dapat belajar dari Amerika ‘tradisi demokrasi dengan munculnya tradisi grass-roots serta lebih diperhatikannya hak asasi manusia. Keterbukaan pada persaingan antara manusia dan generosity dari penduduk Amerika perlu juga diperhatikan. Namun ada pula pengaruh negatifnya yaitu dapat munculnya kapitalisme tanpa batas dan ideologi untuk terus memperbesar kue ekonomi tanpa imbangan kewajiban untuk membagi kue buat orang-orang yang miskin”.
Hubungan Indonesia dan Amerika teramat penting seperti saya pernah tulis di sebuah buku. Betapa proses demokrasi di Indonesia didukung oleh Amerika Serikat terutama sejak masa Reformasi tahun1998. Contohnya beberapa Amendemen UUD’45 dan kemunculan berbagai institusi demokratis yang lahir selama revolusi.
Saya percaya ada peluang besar untuk mempererat hubungan RI-USA yg win-win dengan pemerintah baru USA. Untuk kebaikan bersama ketika dunia harus bersatu melawan pandemi Covid-19. Memenangkannya dalam waktu singkat.
Sebelum tidur saya merenung.
Mungkin ini waktu yang terbaik bagi saya untuk menerbitkan ulang kembali buku yang berjudul Pengaruh Amerika Serikat dalam Dunia Intelektual di Indonesia (Penerbit Bentang, 1997). Dengan data-data dan hasil riset terbaru dengan munculnya demokrasi digital di dunia. Do’akan teman-teman semua.