Pentigraf : Ang Pao Mey Chan – M. Rizal Ical

Ang Pao Mey Chan

Lampion sudah terpasang cantik. Berkali-kali Mey Chan mematikan dan menghidupkan kontak, antisipasi khawatir nanti malam tidak menyala. Perayaan Gong Xi Fat Cai akan jatuh pada esok hari. Baju warna merah kerah shanghai sudah beberapa kali dicoba, pas sekali. Wajah oriental Mey Chan begitu cantik. Malam ini adalah malam yang sangat ditunggu, Mey Chan sudah berjanji kepada Ilham bahwa mereka akan berjumpa.

Sudut Kota Bengkalis sudah disulap seperti Chinese Town, pertunjukan Barongsai baru selesai ketika Mey Chan mengatakan sesuatu kepada Ilham. Dengan bibir bergetar, dia mengatakan bahwa hasrat ilham untuk menikah adalah mustahil. Betapa pun cinta sangat besar, sekali lagi persoalan keyakinan yang berbeda tetap menjadi penghalang untuk hidup bersama. Ilham tak menyerah, dengan ucapan lembut, Ilham mengatakan bahwa cinta akan menjawab segala perbedaan. Mey Chan tetap menolak dan meminta Ilham untuk melupakan. Ilham menunggu jawaban sampai besok sore.

Keesokan hari, tiga jam Ilham menunggu di pelabuhan Pasar Terubuk, Bengkalis. Dia menarik nafas panjang. Raut kecewa terlihat jelas. Mey Chan tak datang. Musnah sudah segala harapan. Ilham melangkah dengan kaki lemah. Suara musik iringan Barongsai semakin keras terdengar. Atraksi Barongsai berhenti. Ketika kepala Barongsai dibuka. Mey Chan tersenyum dengan keringat yang membanjir. Selembar Ang Pao diberikan kepada Ilham. Ilham membuka Ang Pao. Sebuah tulisan membuat sungging senyuman Ilham. Aku siap menikah.

Rumah Cinta, 14 Oktober 2020

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan