Pentigraf : Kue Bulan dan Saputangan – R. Amalia

Foto stok gratis anak, anyaman, berbelanja

Kue Bulan dan Saputangan

Malam yang indah meski saat ini aku duduk sendiri saja. Di bangku taman kota yang tak ramai lagi dengan orang-orang karena corona, saat itu aku memberanikan diri untuk mengucap janji pada diri sendiri. Kukatakan dengan yakin bahwa apapun yang kualami, aku takkan menyerah. Begitu juga soal pasangan hidup dan masa depanku. Siapapun yang akan datang kepadaku maka dengan senang hati akan kuterima. Akan tetapi, bagaimana mungkin aku menerimanya? Sementara aku dihadapkan pada sebuah realita bahwa dia berbeda keyakinan denganku. “Ayolah Henri, jangan batasi pikiranmu! Apa memang benar yang kau ketahui itu?”


Belakangan ini aku tahu, dia sering pergi ke klenteng. Bahkan di Malam Tahun Baru Cina, ia pergi ke sana. Sore itu diam-diam aku mengikuti wanita yang suka menggunakan saputangan merah jambu. Aroma kue bulan tercium begitu sedap dari Klenteng Tjiong Hok. Meski tidak banyak orang yang datang saat itu, tetapi nyala lampion dan beberapa kembang api menandakan ada sekitar 20-an orang di dalam. Tentu saja dengan protokol kesehatan dan menggunakan masker, mereka tetap merayakan Imlek tanpa pertunjukan barongsai.


Saat asyik-asyiknya menikmati kembang api, entah bagaimana bisa tiba-tiba saja keberadaanku diketahui. Wanita pemilik saputangan merah jambu menawariku dengan kue bulan yang sedang dibawa. “Ini kue bulan untukmu,” ucap wanita bermata bulan sabit itu. Ia mengatakan padaku bahwa kue itu halal dimakan. Ia juga bercerita bahwa dia selalu mengunjungi klenteng untuk mengantarkan makanan yang telah dipesan. Ibunya seorang wanita yang jago sekali membuat kue dan berbagai masakan, termasuk kue bulan dan siu mie. Mendadak rasanya aku ingin mencicipi kue bulan yang dipegang bersama dengan saputangan.

R. Amalia lahir di Surabaya pada 2 Februari 1988. Alumnus Sastra Indonesia-Unesa. Pengajar di SDIT Insan Kamil Sidoarjo. Pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo-Komite Sastra (2017-2022). Penulis buku puisi Anugerah dari Langit (Penerbit Mejatamu, 2017), Pesan Rahasia (Penerbit Mejatamu, 2017), dan Kumcer Wajah yang Berbeda (Penerbit Mejatamu, 2021)
Karyanya dimuat di media cetak dan daring, di antaranya: Jawa Pos, Republika, Pikiran Rakyat, Harian Surya, Surabaya Post, Medan Post, Banjarmasin Post, Bangka Pos, Duta Masyarakat, Go Cakrawala, Media Cakra Bangsa, New Sabah Times (Malaysia), Majalah PaMa (Malaysia), Utusan Borneo (Malaysia), Radar Mojokerto, dan Radar Banyuwangi, Bacapetra, dan Tirastimes.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan