Puisi-Puisi Fakhrunnas MA Jabbar

19

Negeri Ironi

kata orang, negeriku bak sepenggal surga di bumi
tongkat ditanam, yang tumbuh buah
sungai dan danau jadi kolam susu
dari bumi, uang berterbangan
di hati aku pun bertanya:
perginya entah ke mana

siang malam orang-orang menggali tambang
kian dalam liangnya
kian terbentang hutangnya
katanya negeri ini kaya
serba nomor wahid di dunia
pompa angguk sampai terkantuk mengeruk minyak di kedalaman
tembaga diburu, emas pun terbawa
batubara terus membara
nikel tak bisa sembunyi di pulau-pulau jauh
sebab terperangkap serakah
di hati aku pun bertanya:
perginya entah ke mana

di catatan ekspor tambang akhir tahun
tercatat hanya sebagian
di hati aku pun bertanya: perginya entah ke mana

bila di negeri orang
perusahaan milik negara berlimpah-ruah kaya
rakyat makmur dalam dengkur
sedang di negeri ironi
perusahaan negara terhimpit utang
tapi pejabatnya?
ya, bersenang-senang

rakyat dipijak pajak
mulai pajak tanah dan bangunan
hingga pajak lapak dan restoran
tunggulah, jangan-jangan sebentar lagi bernapas pun
kena pajak

di negeri ironi
tak kuasa aku bermimpi

pekanbaru, 30 November 2025

 

Sungai-sungai Pun Mengalir Pilu

ke manakah sungai mengalir
di paling laut yang kelam
selalu bertujuan ke tabir hati
antara pilu yang diam

Ooo, aku tengadah
di genggaman doa-doa
sebab camar sudah terbiar lama
tercakar cemar
tersapu angin dingin
jelang maut tiba

sungai kini masih berdebar
tercakar cemar
racun dan jelaga masih saja dialirkan dari patung-patung bisa di selangkangan pabrik mesiu

sungai-sungai masih berdebar
meski samar
kemanakah sungai itu mengalir
mencari tuju yang berlari
dari kejar fajar penuh cemar

sungai-sungai pun mengalir pilu
di sepanjang lorong waktu tak berpintu
segalanya buntu disebat keliru
setiap langkah jiwa diayunkan
selalu terdedah segala sapa
mencari liang tuju

sungai-sungai terisak kelu
di bawah airmata terendam pilu
ke sana kubertuju
terbawa arus doa
pilu

pekanbaru, 2 Oktober 2025

 

Selamat Datang Masa Lalu

terdedah kini di kabut ingatan
masa lalu kupanggil datang
meski sudah berjarak di lintas samudera dan benua
berlututlah di tingkap i’tikaf
ada lambaian cahaya
menari-nari sepanjang hari

kuterus memburu rindu
di retak pilu yang kian jauh
semesta ini adalah jiwa
terjerembab sunyi
di bentang semesta
hanya ada Ilahi
melecut rasa yang diam
terbalut kenangan dosa

aku pun istirah
di kebat pasrah
tahajudku berakhir sudah
di masa lalu yang segera tiba

pekanbaru, september 2025

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan