Puisi-puisi Fakhrunnas MA Jabbar

Foto stok gratis air, backlit, bayangan hitam

Jeram

lalu kutelan jeram di melayuku
habis dahaga dikikis tempayan jiwa
betapa subur embun tubuh di almanak tak berangka
waktu mengejar jeram di melayuku
tiap kubilang sultan mahmud dan megat seri rama di melaka
jerampun membilang usiaku
tiap kubilang narasinga dan tri buana
jeram kumamah tanpa ruh logam di jiwa

betapa tajam tebing terhampar di sekitar kita
lumut sejarah memamah sehasta-sehasta
betapa jauh rentang waktu antara kita
sejarah mengebat nestapa

lalu kutelan jeram di melayuku
habis sepi tumpah
di rabu sejarah

pb. 8706

Peradaban Mimpi

para filsuf pun mengusung keranda di pundak kuda sejarah
jejalan mengemas airmata dan tangis terpenjara di lidah
sebat peradaban menjema mimpi-mimpi
tak sesiapa membilang helai angin di puncak menara
sehebat apakah renungan dibentangkan di jembatan luka kita
sungguh, tak kulihat sapa sesiapa di kepak rerama

para filsuf pun tak pulas bermimpi di kuda sejarah
awan kehilangan gerimis kota saat malam-malam tahajud kita
kaubilang apa pada jejalan orang-orang yang meludah nasib
di tikungan kelam
bukan, ya bukan rindu dikemaraukan jarak peradaban kita
bukan nestapa sesiapa membusuk di jiwa

para filsuf pun menebar kata di embun peradaban
bergelantungan di angin
dibawa rebah sejarah

9706

Hujan Bunda

kemarau bermusim pula di kota-kota gaibku
hujan bunda tak kunjung tiba
jiwa meranggas dan ranting mematah dahaga
danau-danau membuang segala riak
angin berdzikir sendiri
di mana hujan bunda terjerat jeram waktu

perahu pun lupa berkayuh di bawah rembulan
sekalian menara bersahutan di awan
hujan bunda tak kunjung tiba

kemarau mengepung di kota-kota gaibku
hujan bunda tak kunjung tiba
tempayan mana tak terdedah lagi
airmata memenuhi luka

9706

Kebun Warisan

tiap kusemai kata-kata
buahnya tak ada
pernah kuntum mengembang di jiwa
putiknya entah di mana
anak-anak tumbuh tanpa kelopak
aromanya tak ada

kebun itu kini jadi pabrik-pabrik mimpi
buahnya jelaga
suara mesin mengolah keranda jadi kepingan jenazah
limbahnya nanah
cerobong asap meniup airmata balita
betapa dada disesaki daki-daki

tiap kusemai kata-kata
pabrik-pabrik tak segera memamahnya
bertumbuh hanya resah

9706

Berdayung Kata

kini
semua orang berdayung kata
walau tak ada sampan di otak mereka
melajulah ke mana hendak bertuju
gelombang menelan ombak
ombak menelan riak
riak pun menelan kata-kata
kini
semua orang menelan gelombang
perut mereka berbuncah-buncah
tak kenyang
walau tak ada usus di lambung
sampai tak kuat melumat kata

pb. 9302

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan