Puisi-puisi Fakhrunnas MA Jabbar – Singapura 1994

Fakhrunnas MA Jabbar

Singapura 1994

kepada haji mulyadi

kubangun jua sejarah di kitab-kitab tak bernama di negeri yang tak pernah diam
sepi menenggelam diri
saat berlompatan dari ruas jalan cahaya berjatuhan sepanjang malam memandikan zikirku
(di senja pertarna itu, kau berbisik:: mari buang saja kaos kaki di sini
sementara mereka terus mencampakkan limbah selaksa ton beratnya menyusup di tubuh laut kita lalu kita mandi di genangan racun itu)
begitulah, saudara
sejarah mulai memamah kitab-kitab tak bernama di negeri yang tak pernah diam
sumsum tulangku bergetaran
saat zikir berpendar dari dinding dan loteng kamar
mimpi burukku diburu aroma limbah yang berpencar di riau
(Ialu kudengar seru: mari buang selaksa kaos kaki di sini setelah diusap berjuta-juta sepatu
meski limbah knalpot dan daki dialirkan
lewat terowongan bawah laut sampai ke dapur-dapur kita
virus HIV diterbangkan angin lewat kelamin mancanegara
pariwisata tanpa visa menyuburkan diskotik, salon kecantikan dan obral harga diri)
di atas sejarah yang kubuat, aku tak kuasa, saudara membuka belenggu yang menyekapku dari penjuru-penjuru di negeri yang tak pernah diam
kulawan terus kesombongan nurani dan mencampakkan kaos kaki
tapi aku ragu bila kakiku pun
ikut tercampak pula
singapura, 1994

Singapura Senja

:kepada suratman markasan

para melayu di sini, menjeritlah
sebab cicit burung dah terbang ke langit tinggi
hutan merunduk tanpa sayap
pucuknya bertumbuh di bawah kerangka beton
perhotelan dan rumah susun
rumah kalian
terus tergusur ke ceruk-ceruk bakau
kering perladangan
dan anyir tambak
para melayu di sini, siapa kalian
bersenja-senja memamah harap dan ratap
matahari pun enggan berpaling
singapura, 9306

Orchard Road By Night

kepada h.m. rusli zainal

bintang pun berjatuhan di orchad road
pada malam tanpa embun dan penuh wangi bunga lalu lalang orang-orang penuh tuju memukau
dari rimba beton yang menjulang langit
jutaan megawatt cahaya menyibak tirai kegelapan .
di sudut lucky plaza yang menimang mimpi
pada malam tanpa embun dan penuh wangi bunga
kita tanam benih kenangan biar tumbuh suatu ketika tak tahu siapa yang memetik buahnya nanti
negeri ini !uar biasa, katamu
semua orang mengusung mimpi sendiri-sendiri semua orang berdenyar tanpa kendali
semua orang berpacu tak henti
tapi di mana para melayu kini
barangkali sudah terkubur delam kitab-kitab lama di perpustakaan sekolah dan museum sejarah
archad road terus terjaga
pada malam yang kian akrab dan penuh wangi bunga tak ada lagi temasik tersisa, katamu
rimba beton dan lenguh kapal raksasa mancanegara menimbun mereka suara jon bonjovi dan kenny g mengalir di pub dan kafe
memperpanjang malam .
semua orang mengusung mimpi sendiri-sendiri sedang kita hanya terkesima
bintang terus berjatuhan di orchad road sedang malam tak kunjung pergi
singapura, 1994

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Syair, Pentrigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan