Selamat Pagi, Annisa: Catatan M. Husnu Abadi

70

Pengantar: Ulasan buku puisi kali ini, adalah buku berjudul AKU INGIN, karya Siti Annisa Nurlimawati, seorang magister ilmu pendidikan, dan seorang guru, termasuk guru senior yang berdomisili di Jakarta. Berisi sekitar 40 puisi, yang ia tulis dalam beberapa tahun terakhir, khususnya sejak keikutsertaannya dalam mengikuti Tour Puisi Perruas 2023, ke Turki (Istambul, Euphesus, Bursa, Copadokia, Konya, Ankara). Berikut ini ulasan saya.
Bila dibandingkan dengan penulis dan penyair laki-laki, maka sudah dapat ditebak bilamana jumlah penulis perempuan lebih sedikit dari laki-laki. Walaupun demikian, penulis perempuan mempunyai kualitas yang juga tak kalah dibanding dengan laki-laki. Memang penerima anugerah Sastrawan Negara di Malaysia sampai kali ke 14, terdapat hanya 2 orang perempuan yaitu Zurinah Hasan (2015) dan Siti Zainon Ismail (2019). Demikian juga dengan Anugerah Sagang yang diberikan oleh Yayasan Sagang di Pekanbaru, terdapat hanya seorang wanita yaitu saat diberikan pada kali 23 pada Tahun 2019, dimana Kunni Masrohanti merupakan wanita pertama penerima Anugerah Sagang. Selain itu, ada 22 penerima hadiah Sagang, kategori Seniman Budayawan Pilihan Sagang, yang kesemuanya laki-laki.
Bagaimana dengan penghargaan atau anugerah Nobel di bidang kesusasteraan (literatur) ? Ini sebuah catatan yang menarik. Catatan tahun 2016, dari 113 individual penerima Hadiah Nobel Bidang Kesusasteraan, terdapat 14 wanita. Sedangkan negara dengan penerima hadiah Nobel Kesusasteraan terbanyak adalah Perancis (16 orang), Amerika Serikat (11) dan Britania Raya (10 penerima).
Berdasarkan catatan yang ada, diantara penerima nobel sastra yang perempuan adalah Selma Lagerlof (Swedia, 1909), Grazia Deledda (Italia, Tahun 1926), Sigrid Undset (Norwegia, Tahun 1928), Pearl S. Buck (Amerika Serikat, Tahun 1938), Gabriela Mistral (Chili, Tahun 1945), Nelly Sachs (Swedia, Tahun 1966), Nadine Gordiner (Afrika Selatan, 1991), Toni Morrison (Amerika Serikat, Tahun 1993), Wislawa Szymborska ( Polandia, 1996), Elfriede Jelinek (Austria, Tahun 2004), Doris Lessing (Britania Raya, Tahun 2007), Herta Muler (Jerman, Tahun 2010), Alice Munro (Kanada, Tahun 2013), Svetlana Alexievich (Belarus, 2015).
Untuk apa saya mengutip data-data tentang jumlah perempuan penulis/ penyair/ sastrawan diatas?
Di Indonesia, setelah adanya revolusi tehnologi khususnya yang berkembang setelah memasuki abad ke 21, banyak menghasilkan perobahan. Dunia pers mengalami perobahan yang drastis. Media sosial sebagiannya mengambil alih peranan yang semula dimainkan oleh dunia pers. Dulu, menulis puisi harus dikirimkan lewat jasa pos atau paling maksimal lewat faksimil, kini semuanya berubah drastis. Bahkan dunia pers pun melakukan penyesuaian diri, pers digital. Sekarang ini menulis puisi dapat dilakukan pada handphone kepunyaan sendiri, dan kemudian dapat dikirimkan langsung ke tim editor, tim kurator ataupun langsung via alamat email. Ada majalah online, ada buku online. Atau cukup disebar lewat grup WA masing-masing. Kalau puisi itu menarik dan punya pesan yang kuat, maka banyak orang akan kembali membagikannya pada Grup WA lainnya.
Namun, kerinduan akan adanya buku puisi cetak, antologi puisi cetak, tetap tak terhindarkan. Tak tergantikan.
Perkumpulan Seni Asrizal Nur (Perruas) yang berpusat di Depok, hadir dalam keadaan yang demikian, bagaimana merangkum kerinduan masa lalu seiring dengan kemajuan tehnologi masa kini. Sebagian dari proses kreatifitas penulisan kreatif itu adalah lahirnya generasi para pendidik, para guru, dalam belantara dunia kreatif: menulis puisi, pantun, syair, gurindam dan lainnya. Dihadapan tuan-puan kini terdapat sebuah buku kumpulan puisi yang merupakan bagian dari gelombang kaum wanita yang ingin terus menerus memelihara kecemerlangan dirinya dengan menulis.
Siti Annisa Nurlimawaty, adalah seorang guru dengan masa pengabdian dalam waktu yang cukup lama, berpendidikan magister pendidikan, yang hari-harinya diisi dengan beragam aktifitas, termasuk di dalamnya dalam penulisan kreatif. Kumpulan puisi yang ada di depan saya, berjudul AKU INGIN, diterbitkan oleh sebuah penerbit yang telah terbiasa untuk kerja-kerja semacam ini, Tahun 2024.
Bilamana dibaca beberapa karya puisinya, terkesan nuansa keibuan dan kewanitaan, yang lembut dan hening, tersusun dalam baris-baris puisinya. Seperti yang ia tulis dalam salah satu puisinya.
Salam sapaan kusampaikan pada bunga yang masih berembun/pada tanah yang menyebarkan wanginya/ pada rerumputan/ pada ilalang yang mempersembahkan bunganya/
Matahari yang mengintip di ufuk/bunga-bunga liar muncul dari balik semak/ burung berkicau menambah semarak/ pada semua kuucapkan selama pagi mubarok/
(puisi Selamat Pagi, Baris ke 1 dan 2)
Untuk urusan kerohanian atau kebatinannya, dialognya dengan Sang Maha, melahirkan sejumlah kegelisahan, ketenangan, pertanyaan, dan juga harapan. Pada sebuah puisinya yang lain, Siti Annisa Nurlimawatyn menuliskan perasaannya seperti ini :
Aku pengagum langit kalau senja hari/ketika senja bertahtakan bintang gemintang/ kukira rembilan dialah Tuhan yang kucari/tapi dia pun bukan Dia/
Ah seketika aku terdiam diri/lelah aku mencari ke sana ke sini/ Ternyata dia ada dalam hati/” katakanlah bila hambaku bertanya tentangku, katakan Aku dekat lebih dekat dari urat nadi/
(puisi Aku Mencari Tuhan, bait 3 dan 5).
Apakah setiap seseorang yang telah menulis buku puisi kemudian boleh disebut penyair? Hal ini selalu mengundang perdebatan, sejak puluhan tahun yang silam. Seorang penyair besar, selalu mengatakan dan memberi nasehat, kepada para yuniornya, agar seseorang yang menulis puisi janganlah terlalu cepat ingin dipanggil atau dijuliki seorang penyair. Menulislah terus, matangkan terus dalam memilih kata-kata sehingga punya makna yang semakin dalam dan semakin dalam. Menerbitkan buku puisi itu tak salah dan teruslah. Jangan pula berhenti di tengah jalan. Setiap orang punya gaya bahasa, ada yang levelnya rendahan, tengahan, atau langitan. Karenanya, membaca dan membaca, adalah salah satu cara untuk memperkaya dan menambah gizi sang kepala. Makin bergizi isi kepala, tentu saja akan menambah kekayaan perbendaharaan ilmu dan kata-kata seseorang, dan nantinya, pada gilirannya akan memperkaya kosa kata dalam penulisan puisi.
Dengan terbitnya buku puisi ini, tentu saja Annisa Nurlimawaty akan menyambungnya dengan puisi-puisi lainnya di masa depan. Pertemuan sastra, mau tak mau, selain sebagai arena silaturrahmi dan wisata, juga sebagai upaya penambahan gizi perbendaharaan ilmu dan kata-kata itu.
Saya ingat petuah presiden penyair Sutardji Calzoum Bahri, dalam sebuah puisinya yang ia tulis tahun 1979, 45 tahun yang lalu, yang isinya tetap relevan, paling tidak untuk menyatakan bahwa seseorang itu selamanya tak boleh merasa besar apalagi merasa dan menjadi sombong. Termasuk sebagai penyair sekalipun. Kata-katanya yang ingin saya kutip karena maknanya yang dalam adalah ….. walau penyair besar/ takkan sampai sebatas Allah.

Tulisan Terkait
Berita Lainnya

Walau penyair besar/takkan sampai sebatas Allah/dulu pernah kuminta Tuhan/dalam diri/ sekarang tak/
Kalau mati/mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat/jiwa membubung dalam baris sajak/ Tujuh puncak membilang-bilang/nyeri hari mengucap-ucap/di butir pasir kutulis rindu-rindu/ Walau huruf habislah sudah/ alifbataku belum sebatas Allah/
(puisi WALAU, 1979).
Setiap masa, akan selalu datang para penulis karya-karya sastra, baik puisi, pantun, gurindam, karmina, cerpen atau lainnya. Hal ini tentunya menggembirakan, Demikian juga hadirnya buku puisi karya Siti Annisa Nurlimawaty ini. Selamat terus berkarya sampai kapanpun.

HUSNU ABADI, adalah Penerima: Z. Asikin Kusumaatmaja Award dari PPBHI Pimpinan Prof. Dr. Erman Rajagukguk (2014); Penghargaan Sastrawan Budayawan Pilihan Sagang (2015); Penghargaan Sastrawan Budayawan Sanggar LDT UIR (2005): Penghargaan MA’RIFAT MARJANI dari APHTN Wilayah Riau (2022). Buku puisi: Lautan Kabut ( UIR Press, 1998) ; Lautan Melaka (UIR Press, 2002); Lautan Zikir (UIR Press 2004); Lautan Taj Mahal (Salmah Publishing, 2021), Lahir di Majenang, 1950, memperoleh gelar SH (UIR), M.Hum (Unpad) dan Ph.D. (UUM Malaysia) dan kini sebagai Associated Professor pada Program Pascasarjana UIR dan UNRI.

 

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan