Sosok Brigjen TNI Edy Natar: Pemimpin Religius dan Merakyat

107

BOLEH jadi, jiwa merantau bagi orang Melayu Riau tak sehebat tradisi meninggalkan kampung halaman bagi orang Minangkabau. Sebenarnya, sebagian orang Riau dalam rentang waktu yang panjang juga melakoni kerja merantau tersebut. Ada yang melakukannya disebabkan mencari kesejahteraan yang lebih baik, menjalani masa pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau tuntutan tugas yang tak dapat dielakkan.

Salah satu anak jati Melayu Riau yang menjalalani masa-masa perantauan cukup lama itu adalah Brigjen TNI Edy Afrizal Natar Nasution atau lebih dikenal dengan Edy Natar. Prajurit TNI yang dilahirkan di Bengkalis, 29 Mei 1961 merupakan anak ketujuh dari H. Natar Nasution dan Hj Chairani Jadin. Kedua orangtuanya memang berasal dari Rokan Hulu namun cukup lama bermastautin di Pulau Bengkais. Hj. Chairani ini bersaudara dengan ibunda dari Septina Primawati (Ketua DPRD Riau sekarang).

“Pastilah senang ditugaskan di Riau. Selama ini kita bertugas di daerah orang memberikan yang terbaik, tentu di daerah sendiri kita pasti berusaha sebaik mungkin,” ungkap Edy Natar kepada sejumlah wartawan saat disambut petinggi Riau di VIP Lancang Kuning Bandara SSK II Pekanbaru, Rabu (16/8) lalu.

“Saya ditugaskan di Riau sebelum masa pensiun. Tentu Alhamdulillah, dan saya akan berusaha dengan baik untuk daerah tempat lahir saya, sebagaimana yang sudah pernah saya lakukan di daerah orang,” ungkapnya.



Mengenai prioritas tugas yang bakal diembannya, Edy menyatakan akan memberikan perhatian terhadap masalah kebakaran hutan dan lahan di daerah ini. Tentu dirinya sebagai Dansatgas Karhutla segera mempelajari persoalan Karhutla di Riau.

“Bagaimanapun itu tanggungjawab kita. Dengan mempelajari masalah Karhutla, ke depan bisa dicari formasi seperti apa untuk penanganan Karhutla Riau. Saya kira apa yang sudah dilakukan Danrem lama tinggal mempelajarinya,” katanya.

Edy Natar adalah teman masa kecil saya sewaktu sama-sama sekolah di bangku SMP di Bengkalis. Ayah saya, Buya Mansur Abdul Jabbar (Alm) pernah berteman baik dengan ayah Edy, H. Achmad Natar Nasution (Alm). Orangtua kami sama-sama birokrat. Ayah saya waktu menjabat sebagai Kepala Kantor Deppen dan ayah Edy sebagai Kepala Kantor Departemen Perdagangan Kabupaten Bengkalis.

Ketika saling bertelepon, saya masih merasakan aksen Melayu poghen (baca: medok) Edy, padahal dia sudah melanglangbuana ke mena-mana menjadi prajurit TNI. Pastilah Edy dan keluarganya selama berada di perantauan tak akan pernah luput berbicara dalam logat Melayu setidak-tidaknya saat di rumah. Apalagi, istrinya, Hj. Suti Mulyati memang orang Melayu Bengkalis pula. Keluarga Edy dikaruniau tiga anak masing-masing Dyan Getmi Andhiny, M.Tangguh dan Surya Rizal Perkasa.

Sering saya mengantar ayah dengan sepeda motor berkunjung dan bertamu di rumah Pak Natar, kami pun menggunakan kesempatan berbual atau bermain di usia belia itu. Begitulah keakraban terjalin secara alamiah dan tentu menyisakan kenangan yang selalu ada pada saat-saat tak terduga.

Berita Lainnya

Oleh sebab itu, saya sebagaimana anak-anak belia di Bengkalis waktu itu mengenal juga keluarga Edy yang lain. Dari sebelas orang bersaudara di mana Edy merupakan anak nomor tujuh, tak semuanya yang saya tahu namanya. Beberapa di antaranya Tarmizi Natar (birokrat Pemprov Riau), Neng Natar, Sri Emmy Natar (istri Asral Rachman), Emilia Natar, Yan Natar dan masih ada yang lain lagi.

Situasi kota Bengkalis masa itu begitu sunyi dan terpencil. Kendaraan roda empat hanya ada tiga buah saja masing-masing mobil dinas Bupati Bengkalis, H. Zalik Aris (Alm), mobil dinas Kejaksaan Negeri dan mobil unit penerangan Kantor Deppen yang biasa difungsikan untuk mengumumkan pesan-pesan dan informasi keliling bagi masyarakat dan pemutaran film malam hari di Lapangan Tugu- satu-satunya pusat keramaian- kala itu.

Setelah menamatkan bangku SMP, Edy pun pindah ke Pekanbaru untuk di bangku SMA. Begitu menamatkannya, dia melanjutkan pendidikan di Akabri (1984) dan Seskoad (1998) pertemuan dan komunikasi kami pun semakin jarang. Saya hanya mendengar kabar jauh sebagian aktivitas Edy yang sepenuhnya berkarir sebagai prajurit TNI. Begitu saya mendapatkan biodata Edy dari adiknya, Yan Natar, tentulah membuat banyak orang menjadi bangga dan berdecak kagum akan aktivitas dan prestasi yang diraihnya. Edy sempat juga menamatkan kuliah di bidang ilmu politik tahun 1996.

Karir militer Edy diawalinya setelah menamatkan Akabri mulai posisi terendah sebagai Komandan Peleton tahun 1985 Kemudian meningkat menjadi Komandan Kompi tahun 1991. Keduanya diembannya saat dalam perjuangan di Timor Timur. Aktivitas di medan perang pun dilakukannya pula tahun 2000 di perbatasan Papua-PNG.

Bakat kepemimpinan Edy semakin terang saat dia dipercaya menjadi Komandan Batalyon 515/ Kostrad tahun 1998. Prestasi dan kepangkatan Edy pun mengantarkannya menjadi Komandan Distrik Militer (Dandim) di OKI tahun 2001.

Selanjutnya Edy Natar lebih banyak mendapat kepercayaan bertugas di markas komando. Tugas-tugas yang diembannya semakin mengarah pada urusan pengawasan atau inspektorat. Secara berturut-turut, Edy memangku tugas sebagai Inspektur Madya Itjen TNI (2003), Sespri Irjen TNI (2005), dan Kabag Anev Itjen TNI (2007)

Prestasi Edy makin mengantarkannya ke posisi Inspektur Utama Itjen TNI tahun 2010 dan Sekretaris Itjen TNI (2012), serta Inspektur Kodiklat TNI (2015). Posisi terakhir Edy sebelum ditugaskan sebagai Danrem 031 Wirabima adalah Inspektur Umum Itjenad sejak 2015.

Tampak jiwa kepemimpinan Edy semakin menonjol. Hal ini di buktikannya lagi saat dia ditugas Pembinaan Atase Pertahan (India, Iran, Pakistan) pada tahun 2007, Wasrik Atase Pertahanan (Jerman, Prancis, Inggris, Spanyol) tahun 2010 serta Wasrik Atase Pertahanan ( Washington DC, New York, Brazilia) pada tahun 2014.

Hampir sepanjang karirnya dalam kemiliteran dihabiskan Edy di luar kampung halamannya. Itulah sebabnya, menjelang masa akhir pengabdiannya sesuai batas usia yang dtetapkan dalam karir TNI, Edy sangat berbangga hati ditugaskan sebagai orang nomor satu di bidang kemiliteran. Kesempatan yang tak begitu lama ini makin menyemangatinya untuk menjelajah seluk-beluk Negeri Lancang Kuning yang pernah dinikmatinya semasa kecil dulu hingga masa-masa belia.

Kepiawaian Edy dalam melakukan berbagai pendekatan sosial atau kemasyarakatan, tanpa basa-basi diperlihatkannya saat didaulat menjadi khatib Jumat di Masjid Korem, Jumat (18/8). Edy yang pernah mengenyam pendidikan agama Islam di madrasah sewaktu masa kecilnya di Bengkalis dulu, benar-benar membuktikan bahwa kehidupun religious selama ini memang tak pernah jauh dari dirinya. Kabarnya, Edy sudah terbiasa melakukan salat subuh berjamaah di mana pun dia ditugaskan.

Boleh jadi, sosok pemimpin yang religius seperti Edy Natar ini sangat dinantikan masyaraat Riau suatu ketika nanti. Sebab, Tanah Melayu Riau memang begitu dekat Islam sebagaimana menjadi prasyarat utama untuk dapat menjadi Melayu sejati. (Fakhrunnas MA Jabbar)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan