Spasi || Yusmar Yusuf

Ya, penanda tentang senyap dan sunyi. Rupanya kita memerlukan sisi ini; senyap dan sunyi. Ibarat gerendel pintu yang dilepas, kesenyapan yang hadir adalah sekujur diam alamiah yang menghasil jeda, rehat dan mengundang sejumlah kebijakan yang pasif. Sesekali kita pun merindukan kepasifan namun bijak. Rumi berujar; Silence is the language of God, all else is poor translation. Kehidupan yang rimbun ini memang harus digenapkan menuju ganjil oleh sejumlah spasi (espacement). Melalui spasi, seorang walikota bisa membedakan dirinya dengan seorang Bupati. Kota, sebagaimana lazimnya tempat berdiam-tumpuk berlaksa-laksa manusia dalam ruang buatan (artificial space); beton, tembok, aspal, lorong-lorong riuh tapi mulus, drainase kinclong, perkantoran gigantis namun menawan, taman-taman buatan serba hijau dan berbunga tempat hinggap mata. Lalu apa yang dijual dalam ruang-ruang spasi perkotaan? Ya, ruang-ruang buatan itu saja, bukan malah menyuguhkan destinasi wisata alam dan kembali ke alam (ingat Tenayan dan Okura; eco-tourism). Yang terakhir ini adalah wilayah dan domain kerja seorang Bupati dengan sejumlah spasi-spasi kabupaten. Sebaliknya, kita menjadi terheran-heran pula ketika pergi ke Lembah Harau, di sana sejatinya alam semula jadi, namun diriuhkan oleh rempak ragam alam buatan; ada sebidang taman alam yang mengoleksi ikon-ikon artifisial dunia; menara Eiffel, Windmollen, patung Liberty. Alasannya, demi mendatangkan orang walau tak jauh berkayuh demi merengkuh Eiffel. Cukup di belakang rumah, klik, jepret; jadi tu foto selfie. Setangkai dunia paris telah ada dalam genggaman kita. Sekali lagi spasi itu diringkus, dikeletok, malah dibunuh baik secara fungsi maupun struktur. Dia (spasi yang mendiam) didesak untuk tidak lagi menjadi bahasa Tuhan. Orang-orang kota dan kampung diajak melawan Rumi

 Bahasa yang digunakan manusia bukanlah substansi, akan tetapi tak lebih daripada bentuk, kata Saussure. Ide Saussure ini kemudian diperkaya dalam jendela-jendela coding oleh Derrida. Bahasa yang ditulis (teks), bukanlah kenyataan atau kebenaran itu sendiri. Dia wakil dari bentuk (morf) yang diniatkan untuk mengganti kehadiran sejatinya si-bunyi (fone/phone). Dia adalah sekumpulan huruf yang dirimbun-rimbunkan dalam sekujur ruang terbatas bernama kertas. Kumpulan huruf dan ayat nan rimbun itu sama sekali tak memberi pengertian dan kebenaran atau realitas, tanpa hadirnya spasi. Lihat teks berikut ini:

Suatu pagi saya menelepon fakhrunnas dalam cumbuan kata kata nan penuh selo kadang ita. Ini sebuah contoh bentuk kerimbunan yang amorf itu (atau malah polimorf). Apa yang hendak disampai dan disuguhkan oleh kerimbunan huruf itu? Sama sekali tak menghadirkan, walau makna sungsang sekalipun. Mari kita bergurau dengan tanda baca atau spasi itu, maka dia akan tampil bercahaya dan menggoda rasa: Suatu pagi, saya menelepon Fakhrunnas dalam cumbuan kata-kata nan penuh seloka dan gita. Pola amorf atau polimorf, terkadang amat rancak dan riuh digunakan dalam penulisan karya sastra (puisi, cerpen maupun novel). Tanpa spasi, kaidah, kebenaran, kehidupan menjadi retak tak menentu. Kita membangun keretakan itu, ketika hanya menyundulkan nafsu-nafsi anti proyek jeda.

     Maka jangan heran, ketika tuhannya filsafat Barat bernama Plato berkata; tulisan adalah skandal terbesar umat manusia. Lewat tulisan, orang belajar mengingat tanpa melalui jiwanya. Tulisan bak racun yang menguras darah pengertian dan saraf makna tentang kebenaran sejati (realitas). Sebab, tulisan adalah sebuah proyek pemaksaan lambang bunyi yang sebenarnya bukan bunyi itu sendiri. Untuk mengungkai dengung bebunyian yang amat derivatif itu, maka manusia memerlukan sejumlah tanda baca, yang sebenarnya bukan pula lambang dari penanda bacaan itu sendiri. Semuanya bangunan-bangunan artifisial yang mengasingkan manusia terhadap kebenaran absolut. Ya, tulisan bagi Plato adalah ancaman teragung terhadap logosentrisme. Sekali lagi, spasi dibuang dalam rangkaian makna oleh orang-orang modern yang seakan-akan bertugas membusukkan filsafat. Kerja pelapukan filsafat ini dilakukan oleh para penghafal filsafat yang tampil live di TV swasta. Melawan tuhan Plato?

     Spasi, bagi Jacques Derrida tak lebih dari sebuah cara menunda kehadiran, sebuah pelepasan, atau sebuah peristiwa pembukaan (membuka) yang memberi kesempatan dan ruang untuk setiap orang melakukan penyelaman ke atas samudera senyap yang maharaya. Dalam peristiwa penundaan itu terjadi himpunan gunung kebijaksanaan seraya menarik nafas dalam diam dan dalam Dia. Ketika dilihat dari bentuk ragawi, kehadiran spasi seolah menyaji retak teks, padahal dalam tugas sebagai peretak teks itulah terjadi penghimpunan arti dan makna yang disediakan oleh teks lalu dibunyikan secara bergelombang oleh rangkaian huruf aksara sebagaimana huruf dan aksara bahasa coding sebuah computer. Apakah ini, sebuah jalan menyalin bentuk kembaran samawi bernama buku agung (Stamboek) Lawh al Mahfuz? Di sini tiada lagi perlawanan kepada Tuhan. Derrida hanya risau dan merisau tentang ketiadaan jeda dalam hidup dan kerimbunan teks, sehingga membuat orang tidak lagi berjinak-jinak dengan kepasifan bijak, malah mabuk dalam kearifan berjenak-jenak yang sejatinya tak lebih dari perbuatan membakar kearifan itu sendiri. Membakar filsafat? Entahlah Yang jelas pembakaran filsafat hari ini dilakukan oleh para penghafal filsafat yang tampil bak selebritas di media-media sosial dan saluran TV.

     Kenapa jeda dirindui? Wawww beragam alasan dengan sejumlah ibarat dan tamsil yang disuguh demi menggenapkan hati manusia yang serba gundah-lara oleh sejumlah kebenaran semu dan kebahagiaan bayang-bayang (shadow). Penggenapan itu sejatinya adalah jalan ghazal, jalan ganjil. Sebab di dalam keganjilanlah kebahagiaan dipetik, kebenaran disauk. Dan, spasi menghidang ruang retak namun bertugas menghimpun segala yang terasa menggenap menuju ghazal. Anda tinggal menjatuhkan pilihan dari Fyodor Dostoevsky; Which is better “ cheap happiness or exalted suffering? (Mana yang lebih enak; kebahagiaan murahan atau penderitaan yang terpuji?). Atau, cukup bercengkerama dengan ide eksistensial dari Nietzsche: Kebenaran adalah penjumlahan kumulatif dari serangkaian kekeliruan. Wak Atan, seorang teman saya suatu masa; membenamkan diri dalam proyek ilmu perkeliruan ini. Dan tak retak

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan