

Sebagai manusia bersastra sastrawan perlu menampilkan gagasan dan catatan tentang tingkah laku manusia terhadap sesama manusia lain. Manusia mampu menjadi juru kisah. la menciptakan hikayat, dongeng, syair kepahlawanan, puisi, cerita, dan drama yang kemudian dituliskan orang dan bisa dibaca berkesinambungan.
Manusia sebagai makhluk homo ludens (mampu menciptakan permainan sendiri) telah menempatkan dirinya dalam tingkatan yang terbaik di antara makhluk ciptaan Tuhan yang lain.
Sebuah suasana pedesaan dan lautan yang cerah telah mengundang seseorang untuk bermain-main dengan fantasi dan pikirannya. la mungkin secara bijak telah mampu menyerap suasana kampung. Tentang burung-burung, matahari yang memberi hidup kepada rimba dan sawah yang terbentang, bunyi-bunyian margasatwa dan aroma hutan yang harum ataupun bau amis ombak di pantai nelayan.
Ketika manusia memulai pengembaraannya di kota-kota -suatu kehidupan kota besar- yang berangkat dari landasan nilai pedesaan yang murni telah mengubah dirinya menjadi manusia “purnawirawan petani” yang perlu setiap saat memutakhirkan dirinya dalam perubahan zaman.
Tahun-tahun yang lalu dan mungkin juga sekarang seorang penyair masih mcnulis puisi dalam kamarnya. Tapi dewasa ini puisi telah menjadi barang ‘manufaktur’ yang dipasarkan dalam bursa kesusastraan kota.
Puisi tidak hanya ditulis tapi sudah dibacakan dan dipergelarkan. la hadir di toko-toko buku, di ruang media sosial (facebook, intagram, tiktok dan Whattshap), penerbitan nasional maupun edisi penyair sendiri.
Pada abad ke-21 ini kesadaran regional semakin kuat untuk melakukan paguyuban suatu kerjasama ekonomi, sosial dan kebudayaan. Negara yang terhimpun dalam ASEAN telah mencanangkan kesepakatan bersama dalam kerjasama masyarakat ekonomi Asean ( 31 Desember 2015).
Konon, kerjasama regional ini menyediakan pangsa pasar yang melibatkan 600 juta jiwa dan menjadi pergerakan manusia, barang dan jasa tanpa sempadan (batas) negara.
Pada posisi ini Indonesia untuk kesekian kalinya akan memainkan peran penting dalam melakukan media bernegosiasi setelah era Bung Karno dan Pak Harto. Indonesia sukses melakukan koalisi dalam himpunan Negara-negara NonBlok (politik bebas aktif) yang melangkaui Asia dan Afrika.
Beberapa kegiatan internasional ketika itu mampu menorehkan catatan emas bagi Indonesia. Misalnya pesta olahraga (Ganefo), Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA). Kemudian diikuti era Orde Baru dalam bidang politik yaitu Jakarta Informal Meeting (JIM) dalam menyelesaikan konflik Kamboja.
Pada saat dicanangkan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini sikap optimis dan pesimis mulai terdengar dari berbagai kalangan cendekiawan dan politisi. Pemerintah Kabinet Merah Putih yang dinakodai Presiden Prabowo Subianto dalam awal pidato pengukuhannya begitu optimis memenangi pertarungan ini dan beliau yakin meraih keuntungan dibalik kerjasama negera-negara Asia Tenggara plus ASEAN itu.
Di pihak lain ada yang menyatakan melihat kondisi dan situasi ekonomi dan persoalan krusial, Indonesia akan terancam dari aspek mata uang, keterampilan sumberdaya manusia, sarana, dan prasarana yang rendah. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi.
Posisi Sastra
Merujuk kerjasama Negara serumpun itu di manakah posisi sastra akan berbicara? Sebagai tawaran pemikiran ada dua hal yang perlu dibenahi yakni dunia penerbitan buku dan kualitas sang pengarang. Penerbitan buku dan ‘mahakarya’ buku Indonesia telah mendapat kehormatan dalam Pekan Raya Buku Frankfurt (November, 2015).
Pada ajang yang bergengsi global itu Jndonesia berhasil mempromosikan khazanah perbukuannya sekaligus memperkenalkan sastra Indonesia.Tidak hanya itu. Indonesia tampil dengan segenap imajinasi dari kekayaan budayanya, tari, musik, film, seni rupa sampai seni kuliner.
Semuanya mendapat tempat,dan semuanya perlu dicatat’ meminjam kata-kata penyair besar Chairil Anwar.Tema Indonesia di ajang bergengsi itu ialah “17.000 pulau imajinasi” yang artinya imaji Indonesia tidak hanya ada dalam buku dan karya sastra , melainkan juga dalam keramahan kebudayaannya (Rahman, 2015).
Secara menarik, Jamal menulis tentang keprihatinannya tentang “kerawanan akan kehilangan imajinasi” bagi pengarang untuk menghasilkan karya sastra.
Pada masa revolusi, imajinasi Indonesia merupakan respons dan dorongan terhadap perjuangan merebut kemerdekaan. Di zaman Orde Lama merespons terhadap pertarungan politik dan ideologi, dan masa Orde Baru mengkritik kekeliruan pembangunan, dan di era Reformasi sampai saat kini merespons terhadap masalah moral, etik dan budi pekerti yang sangat rendah.
Sejak itu, imajinasi Indonesia kehilangan kegembiraannya. Sebagaimana yang ditulis Jamal lagi, “Kita kehilangan imajinasi Indonesia yang romantik, Kita kehilangan imajinasi Indonesia yang steril dari kekecewaan dan kejengkelan atas kenyataan” (Horison, 2015). Kita kehilangan dunia puitik yang sekaligus menghilangkan unsure puitis dari alam lingkungan.
Depuitisasi (menanggalkan unsur puisi) tentang alam semakin terlihat dewasa ini khususnya dalam masyarakat kota. Tanggung jawab ini harus dikembalikan kepada penyair dan sastrawan untuk apa sebenarnya ia menulis kesusastraan.
Sikap hidup seorang penyair bukan hanya tergambar melalui karyanya akan tetapi dapat dikenal dalam percakapan sekeping-sekeping bersama orang lain. Mungkin inilah sebabnya temu sastra, dialog budaya, dan kenduri puisi yang semacam FSIGB Tanjung Pinang diadakan.
Kita mengharapkan beberapa penyair yang berpribadi telah muncul dalam khazanah Sastra Indonesia modern . Sastra atau puisi tidak hadir begitu saja atau dipungut secara liar dari masyarakat lingkungannya. Ia adalah laksana seutas benang emas budaya yang dijalin oleh waktu demi waktu dan sampai satu saat sebuah ‘songket kebudayaan‘ terbentuk .**
*Penulis dosen dan sastrawan, tinggal di Medan
Khasanah perbukuan sastra akan semakin gemerlap andai semakin banyak penulis sastra muda yg berbakat diberi kesempatan untuk menerbitkan karya terbaiknya.