Esai : Santun 79 Mencumbu Kalbu (Penghormatan untuk Dato Kemala)
Husnu Abadi
117
Bagikan
SANTUN 79 MENCUMBU KALBU
(penghormatan untuk Dato Kemala)
Oleh : Husnu Abadi
Untuk menghormati ulang tahun yang ke 79, 30 Januari 1941-2020 dari Sastrawan Dato Kemala (Sastrawan Negara Dato Dr. Ahmad Khamal Abdullah), sejumlah penyair dari beberapa negara menyumbangkan puisi yang dikumpulkan oleh Lily Siti Multatutiana , dan diterbitkan dengan judul Santun 79 Mencumbu Kalbu (Penerbit KKK, Jakarta, 111 hlm). Di Indonesia, antologi semacam ini, sudah merupakan suatu gerakan baru. Ketika seorang sahabat sastrawan meninggal dunia (Ane Matahari), tragedi kemanusiaan yang menjadi isu publik (Anti Kekerasan Terhadap Anak), peristiwa politik nasional (Pesan Untuk Presiden), ulang tahun sebuah perdamaian setelah konflik yang panjang (Seperti Belanda), semuanya itu telah melahirkan antologi puisi, yang merupakan ekspresi puluhan penyair atas tema-tema yang telah ditentukan.
Bagi penyair dari Indonesia, nama Dato Kemala, telah lama dikenal, baik karena publikasi karya-karyanya maupun karena Kemala cukup rajin untuk menghadiri acara sastra yang diadakan di Indonesia. Beliau menerima gelar Sastrawan Negara (SN) tahun 2011, SEA Write Award dari Thailand (1986), Literacy Award dari Kathak Community Circle Bangladesh (2015). Gelar doktor, diperolehnya di tahun 2000 dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Sejak beberapa waktu yang lalu, beliau menubuhkan organisasi untuk menghimpun seniman sastrawan se Asean dengan basis di Malaysia, Nusantara Melayu Raya (Numera) dan beliau sendiri yang menjabat sebagai Presiden. Karya-karyanya terdiri dalam berbagai genre: puisi, cerpen, drama, cerita anak-anak, esei dan buku ilmiah. Sejumlah puisinya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, Prancis, Jerman, Inggris dan lain-lain. Beberapa antologi puisinya adalah AYN (DBP, 2012), Pelabuhan Putih (DBP, 1989), Titir Zikir (Pustaka Cipta, 1995), Ziarah Tanah Kudup (DBP, 2006).
Antologi Santun 79 ini, memuat 60 puisi yang ditulis oleh 36 penyair, yang berasal dari Indonesia (17), Malaysia(15), Brunei (2), Singapore (1), Rusia (1). Umumnya setiap penyair menulis 2 puisi (24 orang), walaupun demikian ada juga yang hanya satu puisi (11 orang) dan ada yang 3 puisi (1 orang).
Ada hal yang menarik yang ditulis oleh 17 penyair Indonesia, baik yang mengenai tema ataupun gaya bahasa serta tendensi. Tidak semua penulis Indonesia yang secara khusus atau secara eksplisit menulis puisi untuk menghormati Dato Kemala, namun nampaknya secara umum harus dikatakan bahwa mereka menulis memang untuk menghormati Dato Kemala. Saya ingin membicarakan bagian pertama, yaitu mereka yang secara khusus membicarakan Dato Kemala secara eksplisit. Paling tidak ada 13 penyair Indonesia dari 17 orang, yang secara eksplisit mengekspresikan dalam kata-kata puisinya dengan menuliskan nama Kemala atau yang dapat dikesankan untuk Dato Kemala.
Misalnya saja bila kita baca puisi Fanny Y. Poyk (60) berjudul USIA , yang pada alinea terakhir dari puisinya, penuh harapan dan doa, agar Dato tetap sehat wal afiat. Penyair kelahiran Bima, NTB , 18 November 1960 ini, menulis:
Selamat ulang tahun Pak Datuk Kemala/ biar semua bermain di absurditas makna/ namun tawa selalu terhias di wajah/ merangkum kisah di titian irama/ menunggu fajar terbit penuh pesona/ membaur pada aroma tubuh, sehat selalu mendekap raga/
Seorang penyair dari Medan, dosen di USU, dan kini telah berpangkat Professor Madya, Siamir Marulafau (62 tahun) , di bawah judul DI USIA SENJA 79, mengakui akan kemasyhuran Dato karena sejumlah prestasi dan karya-karyanya yang bertebaran dimana-mana …../ jejak langkahmu tersemai di setiap sudut kota/ menggapai citra bernuansa melayu raya/ wahai penyair negara/sungguh namamu, pujangga tak sirna/
Pada 9 baris terakhir dari puisinya yang panjangnya 24 baris, sang pensyarah ini menulis harapan agar Dato panjang umur, sukss dunia akherat:
Kuucap selamat menempuh 79/ moga ilahi barokah. Panjang umur, sukses/ di kala jiwa berkobar bagaikan api menyala/ seiring pujangga negar mengulas dasawarsa lima/ menyinari lengit kelam/ di kala bintang merindukan bulan tak bercahaya/ Bumi Malaysia mengupas kecemerlangan/dunia akhirat membawa nikmat/
Seorang penyair wanita Indonesia, dari 6 yang puisinya dimuat dalam antologi ini, Nia Samsihono (Dad Murniah), yang kini telah bersara dari ASN/PNS Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta, dengan judul puisi TUJUH PULUH SEMBILAN, memberikan tafsir akan makna kehidupan, dan makna umur bagi seorang manausia di dunia ini, dengan mengutip sebuah ayat dalam kitab suci Al Quran. Dalam bait terakhir dari puisinya ia menulis sebagai berikut:
Telah ia lewati angka-angka dalam hidupnya/ tujuh menjulang langit berlapis-lapis/sembilan kesuksesan panjang dan lama./ menjadikannya manusia yang bijaksana/ angka itu tertera di pintu menuju Mekkah/ selmat dan sykur terucap kata kata melewatinya/ mohon petunjuk yang maha kuasa/ mohon dilindungi agar`sehat`sentausa/ Jakarta, 3 Desember 2019/ Selamat untuk Datuk Kemala/
Seorang Penyair yang juga pensyarah pada STKIP Rokania, Rokan Hulu, Dr. Hermawan, berkisah tentang pertemuan dia dengan Dato Kemala di sejumlah kegiatan seminar dan forum sastra di Padang ataupun di Riau, dengam pembicaraan kebudayaan dan peradaban Melayu. Sebuah puisinya berjudul MAKNAKAN MELAYU, Untuk Dato Kemala: Berikut ini kutipannya yang saya ambil dari baris-baris awal:
Kini kau timba sumur Melayu/ kering kata-kata makna tak jumpa/ menderas laju irama dan kata/ supaya Melayu jaya selalu/ aku ingin kau kesurupan imajinasi/ sampai tak sadar melahirkan puisi/
Seorang penyair wanita Indonesia lainnya, yang sudah sangat akrab dengan Dato dan dengan udara Malaysia karena lama tinggal di Melaka, Lily Siti Multatutiana, menulis puisi dengan judul SELAMAT HARI JADI DATO KEMALA, yang menggambarkan pengalaman Lily dalam mengulas sejumlah karya Dato, khususnya puisi-puisi Dato yang mengambil setting Indonesia.
Di jantung Kuala Lumpur/ Di Pasar Seni/ di hari jadi/ tiga puluh januari/ tepat satu dasa warsa lalu/ bertemu/ untuk pertama kali/ setelah kerap kali/ mengarifi Indonesia dalam karya/ Subuh di mesjid SaadahJakarta/ Seperti Angin Subuh/ Kamar Affandi/ HB Jassin dan al Quran/ Nek Tiamin berdarah Tambusai?
Sebagai penutup dari sejumlah penyair Indonesia ini, seorang Fakhrunnas MA Jabbar, seorang pensyarah di Fakultas Pertanian UIR, dan sedang membuat Ph.D. di Universiti Selangor di bidang Komunikasi Politik, menulis puisi REMBULAN DAN KUPU-KUPU. Metafora yang digunakan oleh sang penyair untuk ulang tahun Dato Kemala adalah metafora alam dan flora, rembulan dan kupu-kupu. Begini penggalan puisinya :
Kupu-kupu mengepak lembut/ di rerimbunan bunga/ angin berlari bersahutan/ di kelopak-kelopak penuh warna/ sekali waktu kupu-kupu ingin terbang tinggi/ menggapai rembulan di langit penuh cahaya/ seketika rapuh kepak-kepaknya/ kupu-kupu itu tertunduk ragu/ hanya menunggu sapa bayu/ sampai malam melambai/ menjauh tak kembali/ bila kau rembulan itu/akulah kupu-kupu yang jatuh diantara wangi bunga/ andai bisa kusentuh/walau kau menjauhi aku/
Memang pembaca puisi, boleh saja menafsirkan apa yang ditulis oleh penyair, misalnya siapakah tembulan itu dan siapakah kupu-kupu itu, mengapa kupu-kupu hendak terbang mencapai rembulan, dan ternyata kupu-kupu tak akan sampai mencapai rembulan, karena sayap-sayapnya tak akan mampu mengangkat tubuhnya untuk terbang tinggi. Apakah rembulan itu adalah Dato Kemala ? Itu pertanyaan liar yang boleh saja dilontarkan oleh pembaca.
Selain antologi Santun 79 Mencumbu Kalbu, juga diterbitkan kumpulan puisi Dato Kemala yang dibacakan oleh para penyair yang diundang hadir datang ke Kuala Lumpur untuk memperingati Ulang Tahun Dato Kemala, yang diberi judul Santun 79 Kemala. Penyair Indonesia yang membacakan puisinya antara lain Lily Siti Multatutiana, Risma Dewi Purwita, Siamir Marulafau, Fakhurunnas, Husnu Abadi, AnindiaPuspita, Ariani Isnamurti, Nurthayla Anwar.
Saya sendiri dalam acara ini, membacakan puisi PESAN, yang ditulis Dato Kemala kurang lebih 30 tahun yang silam. Ini petikannya:
Kalau ombak tak menghempas/ apakah burung berhenti berkicau/ kalau awan tak bergulung/apakah angin kehilangan lagu/ kalau gunung tak dipayungi langit kukuh/ apakah belantara terbakar sengsara?/ dan sang pengembara berkelana jua/ mencari erti kehilangan abadi/ ia perindu pencari/menatap bayang-bayang diri.
Bulan Januari ini, 80 tahun Dato Kemala, semestinya pertemuan Numera, akan dilangsungkan juga. Namun pandemi Covic 19 yang tak sudah-sudah, membuat semua acara sastra di Kuala Lumpur tak lagi boleh ditaja. Sementara itu Dato Kemala, kini tengah membangun/membina sebuah museum seni di Sandakhan, Sabah (sekitar 3 jam pesawat udara dari Kuala Lumpur, plus 8 jam perjalanan darat) . November 2021, berdasarkan informasi di grup WA, Dato Kemala akan menjemput para penyair Numera untuk hadir di acara perasmian Museum Dato Kemala. Nah, bagi yang berminat, bolehlah bersiap-siap untuk mencari ongkos tambang dan mendaftarkan diri pada Koordinator Ahli Bersekutu Numera, Lily Siti Multatutiana.
Selamat Ulang Tahun ke 80 Dato Kemala, 30 Januari 2021
Husnu Abadi, adalah seorang pensyarah pada Universitas Islam Riau, Ketua BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia) Wilayah Riau, Penerima Anugerah Sastra SAGANG Tahun 2015, Penerima Anugerah Z. Asikin Kusuma Atmaja Tahun 2014 dari Perhimpunan Penulis Buku Hukum Prof. Dr. Erman Rajagukguk.
Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Esai Kritik Resensi, Peristiwa Budaya dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel: redaksi.tirastimes@gmail.com