Mozaik : Cirebon Luntur Pamor

Cirebon Tempo Doeloe | Cerbonan

Cirebon Luntur Pamor

Dalam buku-buku sejarah dituliskan silsilah Fatahillah dengan jelas; anaknya bernama Hasanuddin (1552-1570), Yusuf (1570-1580), Maulana Muhammad (1580-1605), Abdul Mafakhir Mahmud Abdulkadir (1605-1640), Abu al-Ma’ali Ahmad (1640-1650), lalu Sultan Ageng (1651-1682) yang memiliki anak Sultan Haji (1671-1687) dan  Pangeran Purbaya. Sedangkan saudara Hasanuddin satunya lagi Pangeran Pasarean memiliki garis keturunan  Pangeran Dipati Cirebon atau Sawarga, Panembahan Ratu (1570-1650), Pangeran Dipati Seda Ing Made Gayam, Pangeran Girilaya (1650-1662). Pangeran Girilaya memiliki tiga anak yaitu Merta Wijaya, Karta Wijaya, dan Wangsa Karta.

Hasanuddin menggantikan ayahnya Fatahillah di Banten, dan saat itu agama Islam dan Banten berkembang pesat, tetapi Pakuan masih berdiri. Hasanuddin menanamkan kuasanya di Lampung yaitu dengan menikahi puteri Raja Indrapura, dan menyerahkan daerah Selebar yang banyak menghasilkan lada. Saat itu, Jayakarta berkembang sebagai pusat perdagangan sebagai saingan terhadap bandar Malaka.  Sementara Portugis sudah datang di Malaka dan menguasainya. Banten kemudian menjadi Bandar baru para peniaga yang datang dari Gujarat, Persia, Turki, India, Pegu yang berasal dari Birma Selatan, dan pedagang-pedagang perantara Tionghoa tentunya. Pada tahun 1568 Hasanuddin membebaskan diri dari Demak  ketika di Demak terjadi kekacauan  saat Sultan Trenggana (1483-1546) mangkat. Sementara itu di belahan barat Jawa, Banten pun semakin ramai.

Setelah Hasanuddin mangkat (1570), ia digantikan oleh putranya bernama Yusuf (1570-1580), Di Jawa Barat masih ada satu kerajaan bercorak Hindu-Buddha, yaotu Pakuan. Sultan Yusuf memeranginya dan pada saat pertempuran Prabu Sedah tewas. Dengan demikian, jatuhlah kerajaan Pajajaran sebagai benteng terakhir yang ada di Jawa Barat (1579).

Jusuf menguasai tahta sekitar 10 tahun. Sebelum ia mangkat, dalam kondisi sakit keras, datanglah adiknya Pangeran Jepara (Aria) ke Banten. Sebagaimana diketahui, Banten adalah taklukan Demak. Sultan Trenggana meminta Pangeran ini untuk tinggal di Demak, dan diajadikan anak angkat oleh Ratu Kalinyamat. Atas desakan Ratu Kalinyamat, ia pergi ke Banten ketika mendengar  Yusuf dalam kondisi sakit keras. Tentu saja pangeran ini membawa banyak pasukan dengan persenjataan lengkap dengan maksud melakukan kudeta. Semula Mangkubumi Jayanegara dan beberapa pangeran menyetujui Pangeran Jepara menggantikan Yusuf. Akan tetapi hakim kerajaan (kadi) melindungi putra Yusuf, Maulana Muhamad dan mengangkatnya menjadi raja dengan gelar Kanjeng Ratu Banten (1580-1605). Waktu itu Ratu Banten masih kanak-kanak, sekitar 9 tahun usianya. Untuk itu diangkat Mangkubumi Jayanegara sebagai walinya dan Pangeran Mas yang berasal dari keluarga Aria Pangiri sebagai penasihatnya.

Adalah andil Pangeran Mas sang penasihat Ratu Banten, ia mendesak Ratu Banten menyerang Palembang dengan maksud agar Banten mempunyai pangkalan yang dekat dengan Selat Malaka dan tentu saja juga dijadikan temat pengumpulan lada dan rempah lainnya yang sedang diburu pedagang asing. Pada tahun 1605 Ratu Banten benar-benar mengerahkan 200 perahu dan lengkap dengan pasukan perangnya menuju Palembang. Palembang hampir dapat direbut, tapi sial bagi pasukan Banten, Ratu Banten tertembak kepalanya dan tewas dalam suatu pertempuran. Ratu Banten mati muda. Tentara Banten mundur dan pulang ke Banten membawa jenazah rajanya.

Pada masa Ratu Banten, untuk pertama kalinya orang Belanda Cornelius de Hotman tiba di Banten (1596). Jadi sesungguhnya Bandar Banten mulai ramai karena masuknya asing dan hubungannya dengan pedagang luar seperti yang disebutkan di atas.

Anak Ratu Banten yang berusia lima bulan diangkat menjadi raja. Ia bernama Abdulmafakhir Mahmud Abdulkadir. Lagi-lagi Mangkubumi Jayanegara menjadi walinya. Namun Jayanegara terpengaruh oleh pengasuh bayinya yaitu Nyai Emban Rangkung yang kemudian disebut ratu. Di Cirebon, merujuk pada silsilah Fatahillah, ia digantikan oleh anaknya Panembahan Ratu yang disebut juga Ratu Banten, dan kemudian digantikan oleh cucu Fatahillah bernama Panembahan Girilaya.  

Pada tanggal 28 Nopember 1598 dibawah pimpinan Van Neck dan Van Waerwyck dengan delapan kapal  dagang tiba di Banten. Kunjungan kapal-kapal Belanda kedua kali ini beruntung  karena hubungan Banten dengan Portugis yang juga mulai masuk menjadi hubungan permusuhan. Sikap Van Neck yang sangat hati-hati dan dapat mengambil hati pembesar-pembesar Banten, menjadi sebuah keuntungan. Tiga kapal dengan muatan penuh dikirim kembal ke Belanda, sedang lima kapal melanjutkan perjalanan ke Maluku.

Pada tahun 1602 Van Neck kembali ke Banten, ia meminta izin mendirikan kantor dagang. Akan tetapi ia hanya diberi izin mendirikan kantor serta menempatkan satu pegawai yang berwenang dibidang perdagangan, hukum warisan, dan untuk memperoleh monopoli dagang.

Pada tahun 1602 itu juga, Mangkubumi Jayanegara meninggal, jabatannya digantikan oleh adiknya. Namun 17 November 1602 ia dipecat karena berkelakuan tidak baik. Khawatir akan terjadi perpecahan dan iri hati, maka pemerintahan diputuskan untuk tidak dipegang oleh Mangkubumi, tetapi langsung oleh Ibunda Sultan, Nyimas Ratu Ayu Wanagiri. Pada 8 Maret 1608 sampai 26 Maret 1609 terjadi perang saudara diantara keluarga kerajaan. Melalui usaha Pangeran Jayakarta akhirnya perang dapat dihentikan dan perjanjian damai dapat disepakati bersama. Banten kembali aman, kemudian diangkatlah Pangeran Arya Ranamanggala sebagai Mangkubumi baru sekaligus menjadi Wali Sultan Muda. Untuk menertibkan keamanan negara, Ranamangga menghukum pangeran atau penggawa yang melakukan penyelewengan.

Januari 1624, Mangkubumi Pangeran Arya Ranamanggala mundur dari jabatannya karena sakit. Saat itu Abdulmafakhir sudah cukup dewasa, sehingga kekuasaan atas Kesultanan Banten sepenuhnya dipegang oleh Sultan Abdulmafakhir. Dua tahun kemudian tepatnya 13 Mei 1626 Pangeran Arya Ranamanggala meninggal dunia.

Lama kelamaan Cirebon terkesan tenggelam karena terpengaruh tetangganya yang sedang berkuasa, Mataram. Hal ini dimulai ketika pada 1590 terjadi perjanjian antara Mataram dan Cirebon. Namun perjanjian itu hanya bagi Mataram sebagai kedok semata agar bisa  menguasai Cirebon sedikit demi sedikit sehingga pada tahun 1650 tertanamlah kuasa Mataram di sana, sedangkan kedudukan rajanya dialihkan ke Mataram supaya Sultan Mataram dapat mengontrol pemerintahnnya.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan