Mozaik : Jenderal, Kiai, Kecubung Martapura, Dan Nasi Itik Tenda Biru

Jenderal, Kiai, Kecubung Martapura, Dan Nasi Itik Tenda Biru

Diakhir April 2014 saya, Hartono Sudi yang saat itu menjabat sebagai Dewan Penasihat Paguyuban Sosial Marga Tionghoa (PSMTI Riau), dan  Dr. Tang Antoni, Ketua Harian Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Provinsi Riau (kini almarhum), diundang ke Banjarmasin, Kalimantan Selatan dalam rangka menghadiri  Pelantikan Pengurus PSMTI Provinsi Kalimantan Selatan. Almarhum Dr. Tang Antoni adalah seorang akademisi yang selama hidupnya bertungkus lumus di Universitas Riau (UR). Beliau doktor lulusan Jerman dan memiliki kompetensi  fisika terapan.  Sayang, beliau belum sempat mencapai guru besar.

Sebenarnya, sebelum menuju Banjarmasin, saya dan Dr. Tang singgah terlebih dahulu di Jakarta dan tentu saja kami bertemu dengan tokoh PSMTI, yaitu Brigjen (Purn) Teddy Jusuf atau nama Tionghoanya Him Tek Ji, seorang Tionghoa yang lahir di Bogor yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Paguyuban Sosial Marga Tionghoa di Museum Tionghoa Indonesia yang ada di salah satu titik di Taman Mini Indonesia Indah. Saat itu pembangunan Musem Tionghoa masih tahap awal.

Menariknya, malam harinya saya dan Dr Tang dijemput oleh Bapak Teddy Jusuf  dan kami dibawa makan disalah satu rumah makan sederhana yang tidak begitu jauh dari hotel tempat kami menginap. Saya tidak habis pikir, bagaimana ini jenderal yang biasanya dilayani dan dihormat-hormati  tapi saat itu mau datang dengan mobil bututnya menjemput dan melayani kami dengan baik. Seingat saya pun, malam itu Pak Jendral-lah yang bayar makan kami.  Hal menarik lainnya, mobil Sang Jenderal juga seperti mobil bekas “tempur”, sebuah mobil sedan semi SUV  kalau hari ini saya yakin barang itu sudah jadi barang antik kalaupun tidak jadi barang rongsokan.  Kata beliau mobil itu bekas mobil dinas yang dipinjamkan padanya. Saya jadi trenyuh mendengarnya.  Barangkali ini adalah berkat didikan militer yang selama ini beliau terima, batin saya. Malam itu berlalu penuh dengan keakraban  penuh kesan dan pesan.

Keesokkannya kami terbang ke Banjarmasin dan setibanya di Bandara Internasional Syamsuddin Noor, sudah ada teman-teman dari PSMTI Kalimantan Selatan yang menjemput.  Setibanya di hotel kami bercengkrama; selain membicarakan hal-hal teknis pelantikan yang akan diadakan keesokan malamnya, tentu saja ada banyak hal yang didiskusikan dari masalah sosial sampai aktivitas bisnis.

Malam harinya kami diundang makan di sebuah rumah yang menurut saya cukup unik. Pemilik pertamanya adalah mantan Walikota Banjarmasin pertama Aidan Sinaga. Sekarang rumah itu ditempati oleh menantu dan anak perempuannya. Jadi, boru Sinaga kawin dengan marga Tionghoa, Pak Tidarta Bagong namanya yang juga salah seorang pengurus PSMTI  Kalimantan Selatan.  Rumah itu memiliki taman yang luas yang letaknya berada diposisi dalam. Jadi, taman itu terlindung oleh badan rumah sehingga dari jalan tidak kelihatan.  Pesta taman, begitulah.

Pada malam itu pulalah saya untuk pertama kalinya bertemu secara langsung dengan almarhum Anton Medan.  Pak Kiai ini cukup ramah dan komunikatif.  Sang Kiai mualaf ini datang bersama istrinya yang masih muda dan malam itu Nyonya Kiai menyumbang sebuah lagu Mandarin  Yue Liang Dai Biao Wo De Xin, yang dipopulerkan oleh Teresa Teng. Suara merdu Nyonya Kiai tidak kalah dengan penyanyi-penyany kafe. Dalam hati saya, mungkin Pak Kiai tersihir oleh desah suara merdu Sang Nyonya. Untuk sebuah lagu malam itu saya bagi jempol buatnya. Sebuah catatan tentang almarhum Kiai Anton Medan, beliau adalah Ketua Umum Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), beberapa kali mengunjungi Pekanbaru dan kami  selalu bertemu sekadar kongko-kongko. Masih dalam tangkapan ingatan saya, saat malam pelantikan PSMTI Kalimantan Selatan, beliau diberi kesempatan untuk berceramah dan pesan moralnya, ia mengutip Quran Surah Al Hujarat ayat 13 tentang bagaimana menjalankan toleransi dalam kebhinekaan.

Usai pelantikan Pengurus PSMTI Kalimantan Selatan, dan sebelum pulang ke Pekanbaru kami diajak ke Martapura. Waktu itu kebetulan sedang memasuki “Zaman Batu”, dimana-mana orang sedang “gila-gilanya” mengoleksi batu akik. Bukan sekadar mengoleksi, tetapi memperbincangkan fenomena perbatuan mulai dari bentuk, warna hingga mitologi atau energi metafisika yang  ditimbulkan oleh sebuah batu. Untuk hal ikhwal ini tentu terserah pada peminatnya. Ya, segala batu mulai giok Aceh,solar Rokan Hulu, lumut Sungai Dareh, raflesia Bengkulu, hingga bacan hijau yang terkenal lumayan mahal memenuhi cerita dunia perbatuan.

Jarak kota Banjarmasin – Martapura tidak lebih dari 30 kilometer. Lalu lintas pun tidak begitu padat sehingga hanya kisaran 45 menit saja target sudah dicapai. Kami dibawa ke sebuah pasar berlokasi di Pertokoan Cahaya Bumi Selamat. Di sini tidak hanya menjual hiasan, batu permata, tetapi cindramata lain seperti songket, kaos dan lainnya juga banyak. Ya, layaknya sebuah pasar souvenir.

Oyam sewaktu saya di bangku Sekolah Dasar, pada buku-buku pelajaran sudah disebutkan Martapura adalah kota penghasil tambang intan. Dan hari itu saya ada di sana, juga ikut membeli sebuah batu kecubung ungu. Pak Haji yang menjual batu berbaik hati pada saya, ia memberi  tambahan beberapa buah batu kecubung jenis lain, kecubung teh secara percuma sebagai tanda kenang-kenangan, katanya. Alhamdulillah.

Selepas berburu batu akik, saya, Pak Hartono Sudi, dan Dr. Tang Antoni dan ditambah satu teman pak Hartono gabung dalam satu mobil. Saat melintas di suatu tempat yaitu lokasi wisata Pantai Tangkisung, almarhum Dr. Tang penasaran sekali. Ia mengggugah Pak Hartono untuk mencari tahu tentang nama pantai ini sebab di situ melekat marga Tang, katanya.  Pikir Dr. Tang nama pantai ini diambil dari sebuah nama Tionghoa Tang Ki Sung, maka berkemungkinan disitu ada cerita tentang orang Tionghoa. Tetapi setelah kami mendatangi pantai itu dan bertanya-tanya pada penduduk setempat, ternyata nama Tangkisung diambil dari kebiasaan masyarkat setempat menyebut adanya sebuah tangki. Ya, tangki air. Dan nama sun tidak jelas diketahui. Gelik-lah hati saya tentang nama pantai ini. Tapi belakangan saya coba googling; eh, tidak tahu percis mengapa nama Pantai Tangkisun menjadi Pantai Takisung atau karena saat itu terjadi distorsi pedengaran kami atas nama pantai itu? Seingat saya, Dr. Tang masih sempat beli beberapa kilo ikan asin Pantai Tangkisung untuk oleh-oleh bawa pulang.

Suatu kesan yang mendalam adalah ketika itu hari mulai memasuki magrib. Teman Pak Hartono Sudi, Koko Ationg asal Bengkalis  yang sebelumnya sudah malang melintang di Kalimantan Selatan membawa kami ke sebuah warung yang amat sederhana. Warung tenda biru yang menjual nasi  itik goreng.  Ya, warung itu memang menggunakan tenda berwarna biru. Warung ini lebih dikenal dengan Nasi Itik Tenda Biru Gambut karena lokasinya berada di jalan A. Yani    KM 14 Kecamatan Gambut, Banjarmasin.  Nasi-nasi sudah dibungkus dengan daun pisang dan ditumpukkan di sebuah meja besar. Menu utamanya memang itik goreng, yang dimakan bersama nasi-nasi berbungkus daun.   Kita juga diberi sebuah piring plastik sebagai alas nasi agar makannya lebih mudah.  Jika dilihat dari banyaknya pengunjung, saya  perkirakan setiap harinya warung itu menghabiskan tidak kurang 200 hingga 400 porsi  itik goreng. Sebuah usaha UMKM yang beromset lumayan besar, bukan? Saya pikir, bila berkunjung ke Banjarmasin, tentu menu Nasi Itik Tenda Biru Gambut tidak boleh sampai tidak dinikmati. Tentu saja masih ada kuliner lain yang bisa bikin ngences misalnya ikan haruan yang dimasak beraneka ragam menu.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan