Mozaik : Medan Tempo Doeloe Sebuah Cerita

Medan Tempo Doeloe Sebuah Cerita

Oleh Nyoto

Dikisahkan ketika John Anderson datang di Medan tahun 1823, wilayah-wilayah yang masuk Medan sekarang masih terdiri dari beberapa kampung-kampung kecil. Dituliskan,“Medan, a village  containing 200 inhabitants, three hour’s journey from Kota Jawa. Babury, containts also 200 people. At this place the river Kesaran falls into the Deli stream on the left.” (Medan, sebuah kampung kecil berpenduduk 200 jiwa, 3 jam perjalanan dari Kota Jawa. Babura juga berisi 200 orang penduduk. Di tempat ini bersatu Sungai Kisaran (Babura) bersatu dengan Sungai Deli. Kemudian masih ada catatan lain,”At Medan, higher up, there is the well attached to a  Mesjid or menjid, formedly built up large square hewn granite stone, two feet in large by one foot wide.” (Di Medan, arah mudik sedikit, ada terletak sebuah sumur bersatu dengan sebuah masjid, dulunya dibangun dari batu granit bersegi empat yang ditatah, dua kaki panjangnya dan satu kaki lebarnya).

Catatan ini memberi arti bahwa ada sisa-sisa batu candi apakah candi Budha atau candi Hindu sebagaimana halnya yang dijumpai di Kota Cina (Labuhan Deli).  Jadi sekitar 200 tahun lalu kota Medan masih berpenduduk sekitar 200 jiwa saja (Lukman Sinar, 1991).

Dalam catatan Creemer (Manajer Deli Mij) pada Delische Schetsen (1889), disebutkan bahwa Nienhuys pindah ke Medan pada tahun 1869 dengan tujuan untuk membangun perkebunan tembakau. Medan dahulunya merupakan sebuah benteng besar yang kemungkinan adalah benteng pertahanan untuk menghadapi serangan dari Aceh. Sisa dari zaman itu adalah dinding dua lapis berbentuk bundaran mengelilingi tanah menjorok antara Sungai Deli dan Sungai Babura. Masih ada sisa-sisa kuburan, diantaranya ada yang dianggap keramat. Juga pernah diketemukan mata uang Aceh kuno. Ini memberi makna bahwa antara Deli dan Aceh sudah terjadi transaksi perdagangan.

Sebagai pengingat, bahwa catatan di atas merupakan masa kuasa Sultan Mahmud  Alrasyid Perkasa Alamsyah (1858-1873) yang saat itu memulai berhubungan dengan pemerintahan Belanda. Sultan ini dapat disebut sebagai sultan yang memberi investor Belanda masuk ke Deli dalam kerjasama membuka lahan perkebunan tembakau. Adalah jasa seorang keturunan Arab asal Surabaya bernama Said Abdullah Ibnu Umar Bilsagih yang menjadi ipar sekaligus Mufti kerajaan (Het Dollar Land; Tembakau Deli Tempoe Doeloe, Nyoto 2012).

Pertumbuhan perkampungan di Medan, awalnya hanya ada Kampung Medan (Puteri), Tebing Tinggi (bukan kota Tebing Tinggi), Kesawan, dan Kampung Baru. Setelah Medan menjadi ibukota Keresidenan Sumatra Timur tumbuhlah kampung-kampung penduduk asli yang baru diantaranya Kampung Petisah Hulu, Kampung Petisah Hilir, Kampung Sungai Rengas, Kampung AUR, Kampung Keling, dan masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Kampung. Selanjutnya ada lagi Kampung Sungai Mati, Kampung Baru, Kampung Sungai Merah, Dungai Maksum yang semuanya dibawah wilayah lingkungan Gemeente Medan (Kotapraja Medan).

Sebenarnya, ada pemisahan antara mana-mana kampung yang masuk dalam lingkungan Gemeente Medan dan mana yang tetap  menjadi wilayah kerajaan Kesultanan Deli, dan hal itu diatur dalam Staatblaad 1909 No. 179 dan Staatblaad 1909 No. 180 yang berlaku tanggal 1 April 1909. Dalam catatan sejarah itu, penduduk Medan baru sekitar 14.000 jiwa (1905). Ketika Medan diresmikan menjadi Gemeente tersendiri penduduk kota Medan tahun 1918 itu 409 orang Eropa, 35.009 orang Indonesia berbagai suku bangsa, 8.269 orang Tionghoa, 139 orang Timur Asing atau total 43.826 orang (T.Lukman Sinar, 1991).

Untuk mendukung pengelolaan perkebunan tembakau, Jacobus Nienhuys mendatangkan tenaga kuli dari Pulau Pinang, Malaysia. Mula-mula didatangkan dengan bantuan “Kongsi”, tetapi pada tahun 1870 sistem ini diubah yaitu dengan mendatangkan langsung tenaga kerja Tionghoa dari Pulau Pinang dengan memberikan persekot melalui Tandil (calo). Para kuli Tionghoa umumnya bersuku Tiochiu yang sudah lama menetap di Pulau Pinang. Sebenarnya, awalnya didatangkan juga kuli-kuli Tamil untuk pekerjaan mengangkat air, membuka parit, dan membetulkan jalan. Tetapi kemudian Pemerintah Inggris di India membatasi pengiriman tenaga kuli sesuai dengan peraturan “British Protector of Indian labour” yang menuntut dibukanya wakil mereka di Medan yang tidak dikehendaki oleh Belanda. Maka sejak 1880, Belanda lebih memilih mendatangkan kuli-kuli kontra dari Pulau Jawa (Koeli Kontrak Tempo Doeloe; Mohammad Said, 1990).

Seiring berkembangnya kota Medan, untuk menyambut Medan sebagai ibukota Sumatra Timur, maka diaspalah jalan-jalan, listrik dipasang, sistem drainase diatur tetapi air minum yang baik menjadi masalah. Pada tahun 1905 didirikan perusahaan “Ayer Bersih” dimana direkturnya bernama Honert dan Augus Jansen serta Kolff sebagai Direktur Pelaksana. Air disalurakan dari mata air Sumbul di Sibolangit  ke tangki reservoir raksasa di Medan yang tingginya 185 kaki. Tangki air raksasa itu masih ada di perempatan jalan Pandu – Sisingamangaraja sekarang.

Untuk menerangi jalan-jalan di Kota Medan, didirikan juga perusahaan Listrik Medan (OGEM). Kontrak pertama dilakukan pada Maret 1900. Mula-mula pimpinan perusahaan dipegang oleh perusahaan Messars Koopman & Co yang kemudian diambil alih oleh Kerstens dan Herlingen sedang komisarisnya Mr. Schadee. Terdapat 16 persen konsumen swasta diantaranya Medan Hotel dengan 523 lampu, perumahan Cong A Fie 425 lampu, Witte Societteit 334 lampu, Hotel De Boer 352 lampu, Istana Maimun 317 lampu. Sebenarnya usaha listrik di Medan dimulai 1898  yang mengambil alih konsesi dari Deighreis & Co. Pembangunan itu disahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda No. 18 bulan Juli tahun 1898 itu juga.

Pada 1905 didirikan Deli Riding Club (Pacuan Kuda), persisnya dekat komplek pasar sentral sekarang. Para anggota berjumlah sekitar 80 orang dengan meminjam peralatan dari Tuan L.Polis dan sekaligus mempertunjukkan sirkus amatir pertama di tahun 1908.

Sedangkan rumah sakit tertua di Medan yaitu Rumah Sakit Deli Mij yang berada di jalan Putri Hijau sekarang, didirikan pada bulan Juli 1899 atas prakarsa Mr. Ingerman yang saat itu menjabat General Manager Deli Mij., dan Dominee M.J. Brodners. Adalah jasa donasi dari Tuan P.W.Janssen pendiri Deli Mij dan J. Nienhuys pelopor pembukaan perkebunan tembakau Deli mendonasikan uang 15.000 gulden untuk pembangunan Rumah Sakit Deli Mij.

Deli Proef Station yang sekarang dikenal dengan nama Research Institute of the Sumatra Planters Association (RISPA)  yaitu suatu lembaga yabg didirikan ara pengusaha perkebunan di Sumatra Timur (1904) untuk memberantas penyakit hama dan dan memusnahkan serangga dan melakukan pengembangan budidaya tanaman. Dr. J.G.C.Vriens adalah Direktur nya dibantu Dr. L.P.le Qosquino de Russy yang membidangi bagian biologi, Drs. Remmert, Diem dan Penington de Jongh, sedang akuntannya Unterborst. Hasil penelitian dimuat di media berkala Information From The Deli Experemental  Station (Mededelingen van het  Deli Proefstation). Dan Rispa sampai sekarang concern menjalankan tugas riset dan pengembangan kelaa sawit di Sumatra Utara.

Satu cerita terakhir adalah Deli Spooorweg Maatschappij, dibangun sebagai akibat berkembangnya perkebunan tembakau Deli. Inisiatif pertama datang dari Creemer Manajer Deli Mij yang mana pada 23 Januari 1883 Deli Mij memperoleh konsesi dari Pemerintah Belanda untuk membangun jalan kereta api dari Belawan-Medan – Delitua – Timbang Langkat (sekarang Binjai). Lalu 1883 konsesi ini dialihkan ke Deli Spoorweg Mij yang baru didirikan oleh Deli Mij. Selanjutnya lima tahun kemudian memperoleh konsesi untuk membangun jalur ke Serdang – Perbaungan – Serdang – Hulu. Dalam tahun-tahun berikutnya dibangun jalur transportasi kereta api ke Pangkalan Brandan – Pangkalan Susu seiring dibukanya pertambangan minyak di sana.

Demikianlah cerita Medan tempo doeloe yang disajikan secara singkat sekadar hanya untuk bernostalgia. Medan memang punya cerita sendiri. Horas Bung!*

Penulis Adalah Dosen dan Cendekiawan
Bergelar :
Dr. NYOTO, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

1 Komentar
  1. Riami mengatakan

    Keren medan