Mozaik : Menuju Kilometer Nol

Menuju Kilometer Nol

Hari itu saya terbang dengan pesawat Lion Air  dari Bandara Sultan Syarif Qasim Pekanbaru menuju Bandara Internasional Iskandar Muda di Banda Aceh, tetapi transit beberapa jam di Bandara Internasional Kuala Namu Deli Serdang, Sumatra Utara. Niat saya selain keliling di Kota Banda Aceh,  juga ke titik Kilometer Nol Sabang di Pulau Weh, yaitu sebuah pulau terluar dari bagian barat pulau Sumatra. Inilah destinasi yang di-idam-idamkan selama ini.

Ada cerita menarik yang sesungguhnya juga mengkhawatirkan, yakni ketika saya tiba di Bandara Iskandar Muda, eh, tas yang berisi pakaian dan peralatan fotografi  tidak ditemukan saat mengantri mengambil barang di baggage conveyor. Entah sudah berkali-kali baggage conveyor-nya berputar dan saya tunggui namun bagasi saya tidak juga muncul. Akhirnya saya mendatangi baggage claim dan mereka melayani saya dengan baik. Setelah nomor handphone dicatat dan saya juga diberi nomor kontak mereka, lalu saya menuju hotel.

Sore itu juga saya dapat kabar dari pihak Lion Air kalau bagasi saya tertinggal di Bandara Kuala Namu dan mereka mengirimkan foto bagasi saya melalui pesan Whatsap.  Mereka berjanji akan megantarkan  bagasi saya paling lambat esok pagi karena bagasi itu dititipkan pada pesawat penerbangan akhir yang tiba malam itu juga.

Setibanya di hotel dan setelah check in, saya bingung karena mau mandi tidak ada pakaian yang bisa diganti apalagi saya sudah terbiasa menggunakan handuk mandi sendiri.  Jadi malam itu saya tidak mandi tetapi hanya gosok gigi dan cuci muka lalu keluar hotel sambil menenteng kamera.

Saya mendapatkan informasi  dari teman-teman saya yang asal Banda Aceh kalau melancong  ke Tanah Rencong jangan lupa makan mie aceh legendaris seperti mie aceh Razali yang ada di jalan Teuku Panglima Polem No. 81-82 Peunayong Kota Banda Aceh.  Kebetulan saya tinggal di hotel yang letaknya tidak begitu jauh dari Tugu Simpang Lima Kota Banda Aceh sehingga dengan berjalan kaki beberapa menit target sudah didapat.

Sebelum saya masuk, saya perhatikan  posisi rumah makan itu; hanya dua ruko yang digabung dan terletak bersebrangan dengan sebuah Vihara Avolokitaswara yang lumayan megah  yang ramai dikunjungi umatnya. Ketika saya duduk di salah satu sudut  didinding dekat meja saya lihat ada foto Pak Jokowi  makan mie aceh di situ. Dalam hati saya, inilah promosi paling berharga yang dimiliki rumah makan  Razali ini. Tidak hanya foto Pak Jokowi tetapi beberapa foto artis tanah air juga nampil di situ.

Malam itu saya pesan menu special mie aceh kepiting. Tentu saja saya mengesampingkan efek kolesterol daripada kepiting.  Jujur saja, lidah saya memperkuat rekomendasi teman saya Rizalu yang juga berkutat dibidang kuliner yang sama. Malam pertama di banda Aceh saya lalui bersama mie aceh kepiting. Walau sudah sering makan mie aceh yang kedainya berserakan di jalan Arifin Ahmad Pekanbaru tetapi kali ini saya harus saya akui mie aceh razali memang maknyus. Jadi pantas saja jadi legenda apalagi ditulis di situ: “Mie Razali Since 1967”. Artinya sudah lebih setengah abad usaha mie razali ini.

Rencana semula,  esok harinya saya sudah harus berangkat ke Pulau Weh. Tapi malam itu saya sangat berdebar karena mengkhawatirkan bagasi yang tertinggal di Kuala Namu. Ya, suatu kelalaian pihak maskapai perbangan yang selama ini belum pernah saya alami. Tetapi syukurlah, pagi itu pihak Lion Air memang menepati janjinya dan mengirimkan bagasi saya ke hotel.  Tapi saya sudah terlanjur menunda keberangkatan ke Pulau Weh, dan kesempatan hari itu saya mengunjungi Situs Cagar Budaya Rumah Peninggalan Cut Nyak Dien yang terletak di Desa Lampisang  Aceh Besar. Di sini saya mendapatkan seutas cerita dari sang pemandu yang bertutur sedikit kisah filosofis bangunan  mulai dari anyaman atap rumbiah,  letak kamar tidur, kamar pertemuan, hingga posisi sumur yang ada di bagian depan rumah.  Menarik memang.

Di lain kesempatan, saya juga mengunjungi Kapal PLTD Apung yang terdampar di tengah pemukiman akibat badai tsunami pada 26 Desember 2004 yang semula bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue Kota Banda Aceh terhempas sejauh lebih kurang 5 Kilometer  di Desa Punge Blang Cut Kecamatan Meuraksa Banda.  Kini, kapal PLTD milik PLN itu menjadi saksi sejarah  dan museum yang sangat berarti.

Sejalan dengan peristiwa tsunami, ada juga Museum Tsunami yang terletak di jalan Sultan Iskandar Muda Kecamatan Baiturahman Kota Banda Aceh,  merupakan monumen simbolis mengenang peristiwa  gempa bumi dan tsunami Aceh  2004. Di sini kita jumpai banyak foto-foto rekam jejak peristiwa gempa bumi dan tsunami Aceh 2004 dan juga ditampilkan diorama yang bikin bulu kuduk sedikit bergidik. Jelasnya, museum ini menjadi  tempat edukasi yang baik bagi siapa saja.

Sore itu sekitar pukul 16.00 waktu setempat saya memasuki halaman luas Masjid Raya Baiturahman. Masjid ini menjadi landmark kota Banda Aceh.  Sejarah masjid ini dimulai dari peletakan batu pertama pembangunannya pada tahun 1879 dan rampung sekitar tahun 1881. Adalah andil Jendral Belanda Van Swieten yang menjanjikan kepada rakyat Aceh untuk membangunkan masjid  sebagai bentuk permintaan maafnya kepada rakyat Aceh sebagai akibat rusaknya masjid mereka sebelumnya. Masjid Raya Baiturrahman ini juga terhindar dari badai air bah tsunami 2004 lalu. Masjid ini hanya mengalami sidikit kerusakan akibat gempa bumi  dan tsunami Aceh.

Ternyata sore itu hunting foto lumayan bagus, yaitu dengan menjadikan kubah masjid sebagai siluet foto. Memang, untuk mendapatkan gambar yang diinginkan saya harus berjam-jam menunggu di sana sambil menikmati seliweran masyarakat di halaman luas masjid. Ternyata dapat disebut tiap sore hari masyarakat menjadikan halaman masjid sebagai tempat rekreasi.

Setelah dua malam di Kota Banda Aceh, esoknya dengan bergegas setelah memesan becak motor saya menuju Pelabuhan Ulee Lheue.  Tidak lama berselang setelah membeli tiket, penumpang sudah mulai naik ke feri cepat  jadwal keberangkatan pertama. Waktu itu pilihan saya memang feri lebih awal karena informasinya air laut sedang tinggi tingginya karena angin barat. Jadi lebih aman kalau berangkat lebih awal karena ombak belum besar, demikian saran teman yang sudah pernah ke sana.

Sekitar satu jam kemudian saya sudah tiba di Pelabuhan Balohan dan sesuai anjuran teman saya Rizalu, saya menghubungi nomor telepon yang diberikannya.  Nomor kontak orang  yang menyewakan sepada motor.  Bang Rahman yang saya hubungi menyewakan sepeda motor matic-nya Rp 100.000 per hari dan dia hanya memfoto KTP saya. Dan dengan sepeda motor itulah saya mencapai Titik Kilometer Nol Sabang yang tugunya saat itu sudah dipugar. Hari itu hati saya puas karena sudah melangkahkan kaki mencapai tanah airku yang  terluar dari bagian barat Nusantara ini. Rasanya begitu bangga ketika saya berada di atas menara dan memandang ke arah lautan Samudra yang airnya membiru, sementara angin barat terus menampar-nampar wajah.

Tidak perlu waktu lama untuk mengelilingi Pulau Weh. Untuk ukuran beberapa jam saja hampir semua tempat dilalui dan jalan di sana keterangannya sangat jelas, jadi jangan khawatir kesasar. Ada hal yang menarik dari Pulau Weh, yaitu pulau kecil yang dikelilingi Samudra  Hindia ini ternyata  dulunya sebagai benteng pertahanan saat Perang Dunia II. Hal ini terbukti setelah saya menjumpai banyak kuburan tua; ada kuburan orang Eropa, Cina, dan Jepang. Ini sebagai pertanda bahwa dahulu pulau ini dijadikan basis pertahanan.  Dan satu hal lagi, saya tidak menjumpaui sawah di pulau kecil ini.  Dan di sinilah saya untuk pertama kali makan sate gurita. Ya, Pulau Weh dengan Kilometer Nol-nya memang  punya banyak cerita menarik yang buat hati kita bangga sebagai anak bangsa. Hari itu kebetulan Hari Proklamsi 17 Agustus 2018, dan saya pun teringat dengan lagu Dari Sabang Sampai Merauke gubahan R. Suharjo. Merdeka!

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

2 Komentar
  1. Wahid mengatakan

    Sangat berkesan

  2. RACHMAT SENTOSA mengatakan

    Luar biasa . Terima kasih , sudah share pengalamannya . Banyak sisi positif dari destinasinya . Hiduplah Indonesia Raya . Merdeka .