Pemulung Malam || Yusmar Yusuf

Kita adalah serombongan penukang masa depan yang pasif. Pemulung masa lalu yang hiper-aktif. Ringkus masa lalu, keletok dan patah-patahkan, henyak hingga remuk, hancur berkecai, dihempap. Masukkan segala kecaian itu, kemudian hasak-hasakkan dalam tempayan lusuh, hodoh, dan dia akan berubah menjadi kompos. Di atas pelantar media top soila yang diperkaya kompos itulah kita menanam mawar; lalu bertajuk, berbunga, mekar, wangi, memukau. Setelah itu? Matahari benderang, rembulan mengambang. Semua mata seolah-olah tertumpu pada kita. Kita mengingsut diri tak sebagaimana mestinya ego tapi telah berubah sontak menjelma bak alter-ego dengan pembawaan serba arkhais, penuh takzim sebagai  bagian masa lalu dan harus dikenang sepanjang hayat karena tampilan kepurbaannya. Kita menawan (memenjara) kesemenawanan punak.

Tapi, modernisme yang masih gadis (jeune fille) adalah sejarah lupa dan melupa.  Bahasa, ya bahasa Melayu bukanlah hasil perbuatan kita hari ini. Kita, tak lebih hanya sebagai penumpangdi atas gundukan tanah perkuburan bahasa itu. Sebagai migran yang terlempar pada gundukan tanah yang jelita, kita masih sempat memaksa untuk ber-swafoto di atasnya, demi sebuah tujuan komunikasi (mengantar pesan kepada dunia).

Selanjutnya, kita dihasung untuk sigau dan sibuk membangun monumen bahasa. Maka, datanglah seorang Gubernur ke sebuah tapak tanah luka, dengan sebatang tongkatmodern lalu bersabda; Di sini akan dibangun tugu bahasa sebagai penanda. Padahal, bahasa ini tak pernah dirawat. Malah dibiarkan termangu dan diperkosa dalam majelis sorak-sorai orang ramai dalam gendang rebana rumah kebudayaan masing-masing. Bahasa ini tak dimandi, tak pernah dibedak dan tak didandani. Dia hanya didatangi oleh sebuah kesadaran buku induk proyek (stamboek)tahun ganda. Bahasa ini mengalami peminggiran sejarah muasal dan ditodong dalam keramaian demokrasi; voting. Voting dibungkus dalam sebuah laku formal; sidang, seminar, forum, lokakarya, kolokiumdua hari kilat (sebuah lorong pilu shadow scientific). Seakan voting itu adalah setual jalan beautification (penjuwitaan), inisiasi saintification (pensucian para bapa kudus). Siapa yang setuju bahwa bahasa Indonesia hari ini  bermuasal dari bahasa dialek Riau-Johor, tunjuk tangan! Yang tak setuju? Bikin wacana baru.

Semua tindakan sunsang sekalipun tetap dianggap bagian dari majelis kegembiraan demokrasi. Sejarah dihumban dan dikeletok pada sebuah sudut lapuk. Pemungutan sejarah pun terjadi berjela-jela, berlejang-lejang, dalam suasana serba masygul dan legam. Satu di antaranya desakan itu berasal dari para bani penggelora masa lalu, mungkin itu dalam rezim khutub khannah Yayasan, Kandil, atau pun NGO yang berbungkus gerakan entitas dan identitas kebudayaan. Sejarah tak dilupa dan melupa, tapi berpenampilan murung. Walau kemurungan adalah seutas sobekan jelita tentang kejujuran (elaborasi dari  Orhan Pamuk)  Walhasil, kita yang terbirahi membangun monumen segala monumen di atas tumpukan tanah perkuburan masa lalu, sebenarnya tak lebih dari sebuah laku yang banal melingkar-lingkar di pusaran itu-itu saja. Kita tak membangun dan merawat bahasa, kita hanya membangun monumen bahasa, sebagai penanda bahasa ini bakal punah. Kita hanya mengacung-acung keris ber-luk-luk dan tanjak sebagai ekspresi marwah (dignity), tapi tak pernah sekali pun mencubit badan sendiri, apakah kita memang punya marwah selama ini? Kita mendungukan pikiran ketika ditawari bahasa coding sebagai sebuah penyingkapan misteri modernisme kepada anak-anak kita. Lalu kita tawarkan sejumlah alasan entitas kebudayaan (sekali lagi monumen); memaksa anak-anak kufur coding namun melek budaya Melayu sebagai muatan lokal di sekolah-sekolah. Kenapa bukan Sejarah Melayu (dalam rempak semesta) sebagaimana anak-anak Eropa wajib mengikuti mata pelajaran HISTORY (dengan huruf besar dan kursif); berbicara tentang lorong masa lalu bangsa ini, tak semata tarikh dan figur, tapi juga juga sistem falsafati, silang sillogisme era Helenik hingga majelis Cartesian dan Baconian bahkan membanikan fikiran-fikiran sinting Foucault, Derrida dan Heidegger. Kita yang tergila-gila membangun monumen masa lalu itu, sejatinya adalah sebuah tindakan komunikasi yang mengkomunikasikan komunikasi.

Maksudnya teramat baik dengan sejumlah lambungan romantisme, ayak-ayakan tentang kehadiran masa lalu yang bersanding dengan kehadiran kekinian. Sebuah persandingan yang tak sederajat. Duhaiiii ayuhaiii Kuil Muarojambi, biara Muaratakus, candi Borobudur adalah bayang-bayang sejati tentang tajalli (penampakan) ihwal dua sisi kualitas Tuhan Jalalliyah dan Jamaliyah– (Agung dan Juwita -meminjam Ibn Arabi). Kualitas feminin dan maskulin Tuhan, sifatnya menyatu,  kohesif pada dinding bebatuan kuil, biara dan candi yang disusun acak, ranum dan menyulut resital doa-doa. Menderu bebunyi purba dari celah sempit bebatuan itu dalam ragam emmmmmm yang rindang, pirang, falsetto, berdengung, mendenging, dalam sejumlah derivasi bunyi pangkal AUM; lalu memuai menjadi OM (Hindu), larat dalam salinan penghambaan agama Mesir kuno menjadi AMEN, Helenia/Yunani kuno menyeru dewa-dewa di puncak Olympus seraya mengerling janda-janda cantik dengan sejumlah harapan dalam bunyian AION, diterjemah dalam lidah jiran sebelahnya menjadi AIVUM (Latin), dan diteruskan para remaja langit (Semitik; Yahudi, Nasrani dan Islam); menjadi AMEN dan AMIN. Muaro Jambi, Muratakus, Borobudur melengkapi diri selaku alamat simbolik sekaligus alamat referensial.

Ketiga bangunan ini bertandang ke masa kini dalam gaya monumen yang memonumenkan monumen. Pada jenis ini, sang Gubernur tak punya nyali lagi, dia hanya memerintahkan kepada bawahannya: Bikin rambu-rambu dan papan penunjuk arah!!! (tanda seru keras). Merawat tajalli? Maka, penjerumusan diri dalam sejumlah kehendak legam bayang-bayang, sejatinya adalah upaya mempernikahkan dua alam: sisa alam malam yang hadir pada siang benderang. Bayang-bayang yang maujuddi kala siang adalah perpanjangan alam malam legam yang tak mengikhlaskan kehadiran siang. Legam adalah syahdu, jelita, airmata dan kebenaran. Kita tengah melaksanakan siang permukaan-sejenaka, seraya memerangkap diri dalam  kepungan bayang-bayangn (sisa legam) seakan-akan serba monumendan monumental. Padahalmonumen yang kita bangun itu tak lebih dari kecerobohan artifisial. Anti-frasa dari Rumi dengan sengaja saya bangun; Ketika kau lihat di sekelilingmu adalah cahaya, kau pandang sekali lagi; cahaya dan cahaya. Maka, engkaulah kegelapan itu. Dalam kelam malam nan murung, saya nukil serangkap lirik lagu Prancis, La Nuit(Malam); La nuit est si belle; et je suis si seule; je nais pas envie de mourir; je veux pas murir (reff Libre sans Dieu ni patrie; avec pour seul bapteme; celui de lâeau de plui).

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan