Puisi-Puisi Fakhrunnas MA Jabbar

Lagu Ombak yang Pasang

di laut darahku
ombak menakik laut senti demi senti
lambung hitam
seribu perahu berkejaran ke kelam
denyut nadi dan kayuh sampan
menabur kehidupan
di laut darahku
tiga nelayan bertahan di badai
bersampan tanpa bulan
cahaya tak memburai
limit demi limit
yang tertimpa hanya sangsai

pb. 8302

Bayang-bayang Langit

kucari jua bayang-bayang langit
menghempas di bumi
matahari tak menjawab lagi
sekalian orang berpacumenebar pilu
membilang
waktu
waktu
waktu
pilu
ku

jmb. 8302

Ketika Banjir Menyapa

banjir menyapa di tiap langkah di kaki Jakarta
malam-malam menelan gerimis
sungai meluapkan airmata
yang menggenangi nestapa
suara para bayi telah lama diam
dengan denyut nadi tersumbat kelaparan
berhari-hari pertunjukan banjir yang maha hebat
dipentaskan di kaki Jakarta
rakyat yang nestapa menelan gerimis
sendiri-sendiri
lembah-lembah sudah tak ramah
ditancapi rimba beton yang mewah
demi pembangunan, segalanya sah saja
banjir menyapa di tiap langkah
di kaki Jakarta
rakyat yang nestapa merajut duka
pada malam-malam basah
kemanusiaan tiba-tiba dihanyutkan derita
tak sesiapa kini menyapa

jkt.2.2.02

Nyanyian Perpisahan

bila ada nyanyian mengalun jiwa
di hati yang terdalam
itulah perpisahan kita
hari-hari putih
seputih awan di langit tinggi
memahatkan kesedihan bumi
siapa kini mengejar hari-hari pergi
tak kembali lagi
bila ada nyanyian yang menyimpan pilu
di hati yang membeku
itulah perpisahan kita
hari-hari air matatak terbendung di danau rindu
hari-hari perpisahan kita
tak terhanyutkan di sungat waktu
hari-hari berlalu
bagai arus menuju muara kehidupan

pekanbaru, 9706

Bapakku Hutan, Ibuku Laut
Yang Kini Terluka

bapakku hutan
ibuku laut
yang kini terluka
tak tahu bertuju ke mana
sejuta keluh sudah dihamburkan ke bianglala
sedu-sedan tak kunjung reda
darah menetes di  pelupuk mata
bapakku kini terbungkuk renta
ibuku pun melangkah gerah
pepohonan tumbang
di tengah gelombang
percikannya sampai ke tengah padang
bapakku hutan
ibuku laut
yang kini terluka
tak bisa tidur semalamam
berjaga disebat gerah
di tengah lalu-lalang orang-orang yang menjarah dirinya
pohon-pohon bertumbangan
di tengah perladangan
diantar pekik satwa dan suara burung yang kelu
ikan dan teripang bergelimpangan
disengat limbah buangan
ditiup angin sakal dan suara burung yang  rindu
bapakku hutan
ibuku laut
yang kini terluka
tak bisa berkata-kata
walau sejumlah kitab terus dibaca
di renungan dunia
tak sesiapa hendak menyapa
ketika usia kian ringkih
dan uban yang memutih
sepi tak tamat jua

pangkalan kerinci, 2004

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan