Bank Riau Kepri Menerima Fee 10 Ke PT. Global

Tirastimes.com, Pekanbaru – Direktur Utama PT Global Risk Management (GRM), Rinaldi menjadi saksi dalam persidangan kasus fee asuransi kredit Bank Riau Kepri (BRK), Kamis (26/8/2021). GRM adalah perusahaan pialang asuransi yang disebut sebagai pemberi fee kepada 3 terdakwa kepala cabang BRK telah hadir.

Pemeriksaaan Rinaldi sebagai saksi oleh majelis hakim yang diketuai Dr Dahlan saat ini sedang berlangsung.

Pengadilan juga menjadwalkan pemeriksaan mantan Direktur Kepatuhan dan Manajemen Risiko BRK, Eka Apriadi. Ada 6 pegawai BRK lainnya yang juga akan diperiksa hari ini.

Diwartakan sebelumnya dalam persidangan Kamis (19/8/2021) lalu di PN Pekanbaru, mantan Kepala Perwakilan GRM Riau, Dicky Vera Soebasdianto mengungkap puluhan kepala cabang/ cabang pembantu Bank Riau ikut menikmati aliran fee asuransi kredit secara ilegal tersebut.

Dalam persidangan, Dicky menyebut kalau pemberian fee asuransi kredit atas kebijakan perusahaan dan perintah Dirut GRM, Rinaldi.

Ternyata, tidak hanya 3 mantan kepala cabang sebagai terdakwa yang menerimanya dari pialang asuransi kredit, namun seluruh kepala cabang/ cabang pembantu yang menjadi mitra pialang PT Global Risk Management turut mendapat setoran fee tiap bulannya.

“Ya Pak Hakim, semua menerima. Sekitar 40 puluhan kantor cabang/ cabang pembantu,” kata Dicky.

Tiga orang petinggi Bank Riau Kepri menjadi pesakitan dalam kasus ini. Mereka adalah mantan Pemimpin Cabang Pembantu BRK Bagan Batu, Nur Cahya Agung Nugraha, mantan Pemimpin Cabang BRK Tembilahan, Mayjafry serta Pemimpin Cabang Pembantu BRK Senapelan Hefrizal yang juga Pemimpin Cabang BRK Taluk Kuantan, Hefrizal.

Nur Cahya Agung Nugraha didakwa menerima fee asuransi kredit sebesar total Rp 119.879.875. Sedangkan Mayjafry menerima sebesar Rp 59.690.500. Sementara, Hefrizal mendapat aliran dana sebanyak Rp 200 juta lebih. Dana diduga ilegal tersebut ditransfer secara berulang kali tiap bulannya oleh Dicky. Uniknya, uang ditransfer ke rekening atas nama Dicky, namun kartu ATM dipegang oleh masing-masing terdakwa.

Di persidangan, Dicky menceritakan bagaimana uang fee kepada puluhan kepala cabang/ cabang pembantu BRK didistribusikan. Selain menitipkan kartu ATM miliknya, Dicky juga mentransfer fee langsung ke rekening milik para kepala cabang/ cabang pembantu.

“Tiap bulan saya kirim sesuai produksi premi asuransi. Besarnya masing-masing 10 persen,” kata Dicky.

Penyidik dari Ditreskrimsus Polda Riau, Bripka Ari Junitra yang menjadi saksi dalam persidangan tersebut juga menyatakan melihat ada data soal fee asuransi yang diambil dari sistem Smart Credit PT GRM. Namun, kepada majelis hakim Ari menerangkan hanya aliran dana terhadap 3 terdakwa yang masih lengkap datanya.

Kasus ini pun makin menarik karena majelis hakim sempat menyatakan kalau perkara ini beraroma tindak pidana korupsi (tipikor). Sementara jaksa mendakwa dengan UU Perbankan (*)

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan