Membaca cerpen “Rumah Kebahagiaan” karya Rendy Artha Luvian seperti membaca suara batin akan kenangan tokoh “aku”. Kenangan masil kecil kala bersama sebelas anak seusia tokoh “aku” di rumah anak yatim.
Secara format cerpen ini berbentuk senandika dengan memunculkan suara-suara “aku”. Senandika dalam KBBI berarti wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar.
Cerpen yang dibangun mengalir seputar kilas balik tokoh “aku” yang merajut kenangan-kenangan di rumah yatim piatu. Kenangan memiliki makna yang sangat pribadi dan subjektif bagi setiap individu. Makna kenangan dapat berbeda-beda tergantung pada konteks dan pengalaman masing-masing orang. Secara umum, berikut adalah beberapa makna yang terkait dengan kenangan:
Cerpen “Rumah Kebahagiaan” meskipun memiliki kekuatan mempengaruhi psikologis pembaca, namun terasa minim konflik sebagai salah satu komponen utama dalam cerita pendek. Mengingat konflik dalam cerpen memiliki beberapa fungsi penting dalam mengembangkan cerita dan menarik minat pembaca. Fungsi konflik dalam cerpen antara lain:
Cerpen ini dibangun tanpa dialog. Di satu sisi penulis mencoba membangun identitas cerita tanpa dialog dengan harapan terasa kekuatan suara-suara “aku” menceritakan akan kenangannya. Namun penulis perlu memperhatikan cerita yang dibangun tanpa dialog akan memiliki sisi lain yang perlu dipertimbangkan. Mengingat cerita yang dibangun tanpa dialog akan memiliki kekurangan berupa: