Mozaik : Ambon Manise

Ambon Manise

Saya lebih memilih menggunakan frasa Ambon manise untuk megungkapkan ketakjuban akan indahnya kota-kota di kepulauan Maluku khususnya Ambon; juga keunikan sejarah kota Ambon yang terbangun sejak masuknya bangsa Porugis, Spanyol hingga Belanda.

Ambon kini menjadi ibu kota Maluku. Semula, Ambon didiami oleh suku-suku kecil Ambon yang berasal dari Pulau Seram yang secara geografis letaknya tidak jauh. Kepulauan kecil yang terletak di timur Indonesia ini dikenal kaya akan rempah-rempah yang diincar oleh pedagang asal Eropa sejak ratusan tahun lalu. Sebelum masa penjajahan, Maluku menjadi poros perdagangan rempah dunia dengan cengkih dan pala  sebagai komoditi dagangan utama. Hal ini membuat Maluku dijuluki sebagai “Kepulauan Rempah”. Rakyat Maluku berdagang dengan para pedagang dari berbagai daerah di Nusantara maupun Mancanegara seperti pedagang-pedagang Tionghoa, Arab, dan Eropa. Kekayaan rempah ini pun menjadi daya tarik bangsa-bangsa Eropa yang pada akhirnya menguasai Maluku, dimulai oleh Portugis, Spanyol, dan terakhir Belanda.

Adalah Ferdinand Magellan yang dititahkan oleh Raja Spanyol  diberi suatu armada untuk pergi ke Maluku. Dia meninggalkan Seirle pada tanggal 10 Agustus 1519. Maka berangkatlah tiga buah kapal dipimpin oleh Louis de Mendoza, Juan de Cartagena dan Gaspar de Quesada tetapi mereka melakukan pemberontakan. Pada 27 April 1527 di Mactan, Magellan dibunuh sehingga ia tidak pernah sampai di Maluku tempat impiannya semula. Justru pada 8 Nopember 1521 yang tiba di Maluku adalah Carvarhindo dan Goncalo Gomes. Mereka memasuki pelabuhan Tidore dan membuang sauh di sana serta diterima dengan ramah (Sejarah Nasional Indonesia, Seri III).

Selanjutnya, pada tahun 1522 mulai dibangun benteng  yang diberi nama Saint John di Ternate oleh Antonio de Brito. Waktu itu yang memerintah di Ternate adalah Kaicili (Pangeran) Darus yang masih belia yang mewakili raja  yang bernama Boleife.

Raja Bacan membantu orang-orang yang kapalnya kandas yang menjadi sahabat bangsa Portugis. Hubungan Tidore dan Portugis semakin memanas ketika tiba kapal-kapal dari Banda yang henda membeli cengkeh. De Brito mengirim sebuah galai (kaoal dayung) untuk melawan jung yang tiba dari Banda. Galai yang dikirim Antonio de Brito kalah dan dapat ditenggelamkan di Tidore. Saat itu rombongan Spanyol tiba di Tidore dan membantu memerangi Portugis yang sudah mulai kuat di Ternate.

Ternate yang merupakan pusat utama perdagangan cengkih memiliki ketergantungan erat pada Portugis sejak mereka mendirikan benteng di sana pada tahun 1522. Pada awalnya, elit Ternate menganggap bahwa Portugis yang memegang kuasa atas bandar persinggahan di Melaka serta memiliki persenjataan yang relatif lebih unggul dapat dijadikan sebagai sekutu yang berguna. Namun, setelah beberapa waktu, perilaku para serdadu Portugis yang tidak disukai masyarakat setempat memicu penolakan. Hubungan antara Sultan Khairun dan kapten-kapten Portugis tidak begitu mulus, walaupun mereka tetap membantunya mengalahkan negeri-negeri lain di Maluku, seperti Kesultanan Tidore dan Jailolo.

Konflik antara Ternate dan Portugis pecah pada tahun 1560-an, ketika Muslim di Ambon meminta bantuan dari Sultan untuk mencegah orang-orang Eropa yang mencoba mengkristenkan daerah tersebut. Sultan Khairun pun mengirimkan sebuah armada di bawah pimpinan Kaicili Baab untuk mengepung desa Kristen Nusaniwi pada tahun 1563. Namun, pengepungan ini dibatalkan setelah tiga kapal Portugis datang. Selama beberapa waktu setelah tahun 1564, orang-orang Portugis terpaksa meninggalkan Ambon secara keseluruhan, walaupun mereka kembali menetap di sana pada tahun 1569. Baab juga ikut andil dalam sebuah ekspedisi ke bagian utara Sulawesi pada 1563 untuk membawa wilayah tersebut ke dalam kuasa kesultanan pimpinan ayahnya. Petinggi Portugis memahami bahwa penaklukan semacam ini akan diikuti dengan penyebaran agama Islam yang dapat menggoyahkan posisi mereka di Nusantara, sehingga mereka pun berusaha mendahuluinya dengan usaha pengkristenan penduduk Manado, Pulau Siau, Kaidipang, dan Toli-Toli.

Terlepas dari segala perselisihan ini, hubungan Ternate-Portugis tidak sepenuhnya rusak. Saat Gonçalo Pereira mengirimkan sebuah ekspedisi ke Filipina pada tahun 1569, misalnya, penguasa Tidore, Bacan dan Ternate diminta untuk ikut menyertai. Dari Ternate, Kaicili Baab memimpin armada dengan lima belas kora-kora (perahu bercadik besar). Namun, karena Ternate tidak begitu tertarik pada ekspedisi ini, Baab membelokkan armadanya di tengah perjalanan untuk menuju Selat Melaka dan melakukan aksi bajak laut di sana. Terlepas dari desersinya, ia tetap kehilangan sekitar 300 orang dalam perjalanan ini. Ekspedisi Portugis pun berakhir dengan kegagalan, yang diam-diam disyukuri oleh Sultan Khairun.  Meski begitu, Baab tetap merasa tidak senang ayahnya terlalu ramah dengan orang-orang Eropah.

Ketika Antonio Galvao di Melaka mendengar tentang keadaan di Malukusangat gawat bagi kepentingan Portugis, ia menyiapkan dua armada kuat dan lengkap dipersenjatai serta bahan peledak. Pada 27 Oktober 1556 ia tiba di Maluku. Saat itu Galvao dalam kondisi sakit, tetapi ia bertahan dan berusaha untuk berperang. Orang Portugis khawatir karena Tidore dan sekutunya sangat kuat. Oleh sebab itu, mereka menghendaki bantuan dari India.

Sebenarnya, Antonio Galvao berniat untuk berdamai. Ia membawa armadanya ke depan kota  Tidore, dan menyerukan bahwa dia datang bukan untuk berperang. Akan tetapimorang-orang Tidore tidak serta merta mempercayainya. Orang-orang Tidore mulai menembaki armadanya. Hari kedua, Antonio memberanikan diri mendarat di Tidore. Pada suatu ketika ia berhadapan dengan Dajalo raja Ternate yang sangat memusuhi Portugis. Dajalo bersenjata lengkap dan memakai baju zirah. Siab bagi Dajalo, ia dapat dikalahkan dalam suatu duel pedang. Antonio berhasil memasuki benteng Tidore dan dari sini ia berhasil merebut kota.

Maluku sempat dikuasai Antonio Galvao (1536-1540). Sentimen anti ortugsi semakin menjadi, ketika Sultan Khairun berontak  terhadap kesewenang-wenangan prang-orang Portugis. Serangan terhadap benteng pertahanan Portugis semakin menjadi terutama sekitar tahun 1565. Terlebih-lebih setelah Sultan Khairun ditipu mentah-mentah dan diam-diam dibunuh oleh Portugis dengan dalih perdamaian pada tahun 1570.

Pada tanggal 15 November 1582 Portugis dan Spanyol disatukan dibawah  Raja Fellip II dan raja ini menyruh Gubernur Jenderal Spanyol yang berkedudukan di Filipina untuk segera memberikan bantuan kepada orang-orang Portugis di Maluku. Orang-orang Spanyol mencoba merebut Ternate, tetapi tidak berhasil karena tidak lama berselang orang-orang Belanda mulai berada di perairan Maluku  dimana Steven van der Haghen  merebut benteng Portugis di Amboina (23 Februari 1605). Semula Cornelis Bastian merebut benteng Tidore tetapi benteng it hanya dijaga sekelompok kecil tentara Belanda akhirnya diserang oleh tentara Spanyol dibawah pimpinan Acuna (1606). Benteng Gamulamu di Ternate direbut, Sahid Barkat dipaksa menyerahkan semua tawanan Kristen dan semua orang yang menjadi jajahan Spanyol.

Pada tahun 1607 Belanda kembali dan mendapat bantuan Ternate yang membenci Spanyol  yang membawa putra-putra dan sultannya menjadi sandera. Dengan bantuan Ternate Belanda membangun benteng, menyerang Spanyol di Tidore; lalu merebut Makian dan Motir sekaligus membangun benteng-benteng pertahanan di sini.

Diantara orang-orang Spanyol  dan Belanda di daerah Maluku sering terjadi pertempuran (1624-1639) dan Spanyol mengalami kekalahan.  Pada tahun 1639 antara Ternate dan Tidore terjalin suatu perjanjian persahabatan. Hal ini sesungguhnya tidak menguntungkan pihak Belanda karena pada waktu itu selain kerajaan-kerajaan di Maluku melawan monopoli Belanda yang dilakukan Veneneging Oost Company (VOC), Belanda juga menghadapi pedagang-pedagang Barat.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan