Mozaik : Anti Tesis

Anti Tesis

Tulisan ini merupakan tukilan dari draft buku filsafat anti tesis yang sedang saya susun. Sebegitu tertariknya saya terhadap filosofi kehidupan keseharaian, lalu mencoba mencari tahu relevansinya terhadap kehidupan norma manusia. Saya memahami bahwa jika menawarkan ruang filsafat, mulai dari otak kecil sampai otak besar manusia sebagian orang akan sulit mencernanya. Tetapi di situlah menariknya, semakin sukar dipahami maka disitu pula semakin membuat saya tertarik. Nah, apa ukurannya? Jawabannya sederhana; hal ikhwal yang biasa-biasa tidak memerlukan pemikiran luar biasa tentu saja tidak akan memberikan hasil luar biasa. Adigium masyarakat umum ini sudah terbiasa pula kita dengar, bukan? Sebab itu, saya menawarkan anti tesis sebagai upaya menjawab hal-hal yang tidak biasa agar diperoleh hasil yang tidak biasa-biasa.

Pada suatu ketiaka, di suatu hari yang sudah saya lupakan jam, tanggal, bulan, dan tahun, adalah sastrawan kondang Riau Fahkrunas MA Jabar, yang menginspirasi saya dalam hal anti tesis ini. Kami acapkali berdiskusi kalaupun itu tidak disebut sebagai debat kusir. Nah, kita sesungguhnya bisa memahami cara pikir seseorang ketika kita  mulai masuk pada arus kontra produktif. Cara pikir yang saya maksudkan itu adalah metode berpikirnya; dimana setakat ini kita hanya mengenal metode kuantitatif (Positivisme) dan metode kualitatif (Post Positivisme), namun kemudian  ada sebagian kalangan expert mengombinasikannya sebagai mexed method (campuran dari keduanya). Terhadap paradigma berpikir tentu saja ada banyak pendekatan, misalnya pendekatan obyektif, subyektif, imajinatif, intuitif, interview, observasi, historiografi, dan beberapa lainnya. Satu hal yang ingin saya tawarkan adalah pendekatan anti tesis yang memungkinkan untuk digunakan sebagai alat mengeksekusi ide (pemikiran).

Bung Fahrunas, rule model of life-nya memang terbentuk dari etika Melayu nan khas. Terkadang dia pun tidak menyadarinya terhadap filosofi makna yang sesuangguhnya terkandung dalam kalimat yang diungkapkannya.  Ada nuansa sungkan secara etik yang diungkap dalam kalimat-kalimat orang Melayu, misalnya; “Besok tidak menghadiri undangan pesta?” Padahal kalimat ini didahului suatu narasi yang memerlukan jawaban sebenarnya bahwa,”Besok menghadiri pesta.” Tapi mengapa ada anti tesis atas jawaban yang ditawarkan di sana? Korelatifnya adalah arus pikir “orang Melayu” yang diselimuti norma umum.

Jika muncul pertanyaan: Bagaimana proses anti tesis terjadi? Lalu dalam hal apa anti tesis bisa dijadikan sebagai alat pendekatan yang aplikatif? Menjelaskan pertanyaan pertama barangkali  akan gampang dan gamblang, namun menjawab dan mendeskripsikan atas pertanyaan kedua yang perlu hati-hati agar pembaca atau setidaknya orang-orang yang dikategorikan berminat terhadap studi ini memahaminya secara  terang-benderang. Begini; ada pertanyaan sederhana tetapi memerlukan jawaban yang rumit, dan sebaliknya; ada pertanyaan rumit justru jawabannya sederhana. Pahami saja terlebih dahulu terhadap kalimat di atas,  lalu saya memberi contoh seperti suatu peristiwa pertengkaran suami istri akibat kesulitan ekonomi menimpa mereka dan akhirnya terjadilah malapetaka pertengkaran hebat. Padahal simpul masalah hanyalah “kekurangan uang”. Ini dikategorikan sebagai pertanyaan atau permasalahan sederhana tetapi jawabannya rumit. Sedang soal matematika yang rumit yang memuat unsur tambah, kali, kurang, sinus, cosinus, tangen, cotangen, diferensial, dan sebagainya, eh ternyata jawabnnya hanya terkadang ditulis satu angka atau dua angka. Ini hanya ilustrasi yang gampang dibantah, tetapi tidak mudah untuk dipahami, bukan?

Proses anti tesis atau di atas telah disebutkan sebagai model pendekatan berpikir lahir dikarenakan penerapan kearifan lokal. Terhadap masyarakat Melayu sendiri pun orang-orang tua kita dahulu jika mengajar anak selalu menggunakan pendekatan ini. Saya bagi contoh, orang-orang tua di kampung selalu mengingatkan budak-budak nakal jangan memajat pohon tinggi karena akan berisiko jatuh dan itu membahayakan diri mereka. Tapi kenyataannya, ada banyak budak nakal itu memang nakal dan tidak menghiraukan ocehan orang tua mereka. Suatu ketika dijumpai si budak sedang memanjat pohon makan keluarlah ucapan dari orangtua mereka,”Ayo… Ayo… Naiklah kau ke atas terus!” Tentu saja dengan muka geram si Emak atau si Ayah budak itu sambil menunjuk ke arah atas pohon. Mukjijzat terjadi, bukannya si budak itu naik sesuai perintah orang tuanya, melainkan dia akan turun dengan segera. Begitu pula, ketika ada anak yang dilarang merokok, dan sudah diberi tahu bahwa mereka seharusnya menjauhi barang itu dengan alasan bla bla bla. Tapi tetap saja si anak itu mencuri-curi merokok. Ketika tanpa sengaja bertemu, lalu si orangtua memberikan sejumlah rokok kepada si anak untuk meneruskan merokok, justru yang terjadi si anak tidak berani merokok. Terkadang hal ini menjadi syokterapi bagi anak-anak itu. Banyak yang menyadari tetapi tentu saja ada yang tidak mempan dan merasa bebal. Artinya, pendekatan ini bisa berhasil tetapi bisa juga gagal. Ini pendekatan alamiah dasar.

Anti tesis adalah upaya saya mengkritik terhadap orang-orang yang berpikir textbook oriented, obey the rule (seuai yang tertulis saja, taat terhadap aturan baku). Kita sering mendengar cara pikir harus out of the box. Cara pikir ini pertama sekali justru diprkenalkan oleh seorang matematikawan yang berpikir kuantitatif bernama Henry Ernest Dudeney lewat sebuah teka-teki yang diciptakannya. Lalu Edward de Bono mengartikan cara berpikir di luar kotak adalah cara pikir lateral. Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak akan menemui hal baru jika tidak berani berpikir keluar dari hal-hal normatif (zona nyaman).

Jadi, proses lahirnya anti tesis sesungguhnya telah lama dan dia telah beleha-leha di tengah-tengah  kehidupan masyarakat. Hanya saja, ketidaktertarikan kita pada penggunaan istilah dan menyadarinya bahwa benda yang disebut anti tesis sesungguhnya adalah bagian terpenting dalam pengambilan keputusan untuk penyelesaian masalah kehidupan manusia.

Hari ini, jika membangun rumah sudah tidak zamannya lagi harus mengikuti cara tradisional layaknya orang-orang tua kita membangun rumah dengan memulai pondasi hingga pengatapan. Justru sekarang proses pengerjaan itu bisa dilakukan secara bersamaan tetapi tidak pada ruang yang sama tetapi waktu bersamaan. Proses pengerjaan tentu bisa dilakukan secara completely knock down (CKD), ketika semua material telah dipersiapkan secara parsial. Aha, lihatlah bagaimana Tiongkok membangun rumah sakit untuk penampungan pasien covid-19, hanya hitungan hari selesai. Membangun jembatan layang juga menggunakan model yang sama, hanya tinggal rakit dan selesai! Disini diperlukan manajemen pengukuran waktu.

Jadi, sesungguhnya kita saja yang tidak menyadari bila perilaku kita banyak merupakan penjewantahan  anti tesis yang dituangkan dalam norma-norma masyarakat tetapi berbentuk satire.  Tentu saja pada tataran tulisan kali ini saya tidak membawa pembaca berlayar lebih jauh ke tengah lautan filsafat yang luas karena perahu yang dipersiapkan pembaca tidak memungkinkan untuk dibawa berlayar ke tujuan itu.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan