Mozaik : Imlek dan Esensinya

Imlek dan Esensinya

Ada Imlek baru ada angpao, begitu kira-kira sebagian orang beranggapan.  Demikiankah? Oleh sebab itu, saya ingin menuturkan sedikit tentang esensi Imlek dan sejarahnya serta pernik-pernik budayanya.  Jelasnya, Imlek adalah salah satu dari sebegitu banyak hari-hari raya Tionghoa. Orang Hokian menyebutnya sin cia atau tahun baru, terkadang juga disebut pesta musim semi (sin chun).

Ada beberapa pendapat tentang Tahun Baru Imlek, yaitu Pertama, Imlek dirayakan sebagai pesta menyambut musim semi (chun) sehingga pada hari raya ini orang-orang Tionghoa menyebutnya Sin Chun Kiong Hi. Artinya, Semoga rezeki bertambah dimusim semi. Kedua, ada cerita legenda tua yang menyatakan hari itu (Imlek) adalah hari Giok Hong Siang Tee menitis ke bumi dan  menjelma menjadi seorang raja.  Ketiga, Imlek merupakan hari lahirnya Bi Lek Huda atau O Mi To Hud (Marcus AS, 2002).

Dari tiga versi cerita di atas, mana versi yang lebih diyakini orang Tionghoa? Tentu saja sulit menjawabnya secara pasti, sebab filosofi berpikir orang Tionghoa tentang Imlek selalu disandingkan dengan mitologi yang menjadi keyakinan turun-temurun. Namun demikian pun, penulis akan memaparkannya lebih kepada keluar dari konteks keagamaan.

Tahun Baru Imlek di Tiongkok disebut juga Yunli atau Yongli adalah Tahun Baru yang semula dirayakan oleh orang Tionghoa di Tiongkok dalam menyambut sesi musim semi (Chun). Tahun Baru Yunli atau Yongli ini terkadang disebut juga tahun penanggalan pertanian karena pada saat itu awal musim tanam.

Sebagaimana diketahui, di Tiongkok kita mengenal empat musim; dingin (thong-ji), semi (chun-tian), panas (han-ji) dan gugur (khiu-tian). Sesi musim semi dimulai ketika musim dingin berakhir. Ketika musim dingin petani tidak bisa turun ke sawah, mereka lebih banyak berdiam diri di rumah. Ketika akhir musim dingin dan mulai masuk sesi musim semi barulah para petani mulai turun menggarap sawah. Namun mereka sebelum memulainya, mereka merayakan penyambutan tahun musim tanam yang disebut Imlek. Untuk melakukan pemberitahuannya, mereka saling berkunjung sehingga ada suguhan dan perayaan semacam festival musim semi jadinya.

Kesimpulannya bahwa Imlek adalah tahun baru yang dapat disamakan dengan tahun pertanian Yunli atau Yongle. Dalam festival Tahun Baru Imlek, biasanya orang Tionghoa merayakannya dengan juga sembahyang leluhur. Tapi jelasnya, Imlek bukan perayaan hari besar agama tertantu. Imlek murni merupakan suatu budaya yang sudah ribuan tahun dirayakan secara turun-temurun bahkan sebelum agama Khonghucu dan Budha ada.

Ketika Orde Baru berkuasa, masyarakat Tionghoa di Indonesia tidak berani merayakan Imlek secara bebas, sebab Pemerintah Orde Baru telah mengeluarkan Keputusan Presiden No. 14 Tahun 1967 tentang Larangan Bagi etnis Cina (istilah ini dipakai oleh rezim Orba) untuk mempertahankan agama, kepercayaan dan adat istiadatnya. Akhirnya orang Tionghoa yang ada di Indonesia merayakannya secara sederhana  diiringi rasa was-was.

Selanjutnya pada masa kekuasaan Presiden Abdurrahman Wahid  (Gus Dur), dikeluarkan Keppres No. 6 Tahun 2000 tentang  pencabutan instruksi presiden nomor 14 tahun 1967 tentang agama, kepercayaan, dan adat istiadat Cina.  Keppres ini memberi angin segar kepada orang Tionghoa terhadap perayaan Imlek  sebagai salah satu hari raya yang diperingati setahun sekali. Namun Imlek baru dimasukkan dalam Keppres No. 19 Tahun 2002 dan Imlek ditetapkan sebagai Hari Nasional. Artinya, Imlek menjadi libur bagi seluruh masyarakat Indonesia baik yang merayakan maupun tidak.  Dalam sejarah Indonesia, sebelum Keppres 19 Tahun 2002 ini dikeluarkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek sempat dijadikan sebagai hari libur fakultatif, artinya hanya diberlakukan libur bagi yang merayakannya.

Namun demikian, sesungguhnya Gus Durlah yang membuka pintu diskriminatif sehingga orang Tionghoa hari ini bebas merayakan Imlek dan adat istiadatnya. Sebagai kosok baliknya, orang Tionghoa memberi gelar “Bapak Tionghoa” kepada Gus Dur, karena secara politis memang Presiden Abdurrahman Wahid ini getol memperjuangankan pluralism di Indonesia dan menyatakan diri masih memiliki genetik Tionghoa (baca: Tan Kim Tan).

Pernak pernik Imlek biasanya disertai makan malam bersama pada sa cap meh (malam menjelang Imlek). Umumnya keluarga orang Tionghoa akan berkumpul makan di satu meja dalam menyambut Imlek. Esoknya, pada hari Imlek orang Tionghoa biasanya bakar mercon atau petasan. Tradisi bakar petasan ini sebenarnya adalah tradisi mengusir mahluk jahat Nian yang dianggap mengganggu. Dikisahkan dalam suatu peristiwa bahwa disebuah desa ada mahluk yang disebut Nian mengganggu masyarakat kampung sehingga untuk menakuti mahluk ini dibuatlah petasan untuk menakut-nakutinya. Sebab itu makanya ada ucapan Xin Nian Gue Le.

Namun kisah mercon atau petasan ini juga disandingkan dengan cerita mahluk raksasa yang diberi nama San Hoo. Makluk ini dianggap menakutkan dan membawa penyakit diyakini mahluk ini takut dengan bunyi ledakan. Lalu mereka mengumpulkan bambu yang ruas-ruasnya masih utuh dan ditumpuk di suatu tempat lalu dibakar dan menghasilkan suara ledakan. Nah, dari kisah menakut-nakuti raksasa San Hoo ini maka replika petasan berbentuk bambu sebagai simbol semata. Muncul juga ucapan Gong Xi (Kiong Hi) yang artinya Selamat (karena sudah berasil mengusir mahluk jahat). Kata-kata Gong Xi ini kemudian ditempel pada kata-kata lainnya, misalnya Gong Xi Fa Cai.

Suasana Imlek jelas adalah suatu perayaan tradisi yang diwarnai dengan suasana bahagia, maka ada warna merah sebagai warna dominan sebagai simbol kebahagiaan. Ada banyak kue yang rasanya manis sebagai simbol kesejahteraan. Ada banyak rumah-rumah orang Tuonghoa yang dibersihkan dan dicat warna-warna cerah sebagai simbol ketenangan. Artinya, orang Tionghoa memang diliputi dengan suatu energi mitologi yang sesungguhnya hanya bagian dari kultur nenek moyang yang sudah ribuan tahun dirayakan. Tidak ada yang salah dalam hal ini karena tradisi itu sendiri dimaknai sebagai perilaku yang disepakati dan dilakukan secara berulang.

Ucapan yang biasa pada saat merayakan Imlek adalah Gong Xi Fa Cai (Selamat semoga doa (rezeki) terkabul); Sin Chun Kiong Hie (dialek Hokian, Selamat menyambut musim semi);, Xin Nian Gue Le, Wan Se Ru Yi (Selamat Tahun Baru semoga tahun ini berjalan sesuai keinginan anda); Nian Nian You Yu (maksudnya tiap tahun memiliki kelebihan juga buat tahun depan baik harta maupun kebahagiaan); Yi Fan Feng Shun (artinya semua urusan lancar).

Nah itulah Imlek dan esensinya yang dirayakan masyarakat Tionghoa seluruh dunia termasuk di Indonesia. Gong Xi Fa Cai Xin Nian Kue Le Wan She Ru Yi semoga “Tahun Kerbau Logam” membawa berkah buat bangsa didunia keluar dari bencana covid-19 dan kemakmuran yang dihasilkan besar-besar layaknya  sebesar badan kerbau. Semoga*

Penulis Adalah Dosen dan Cendekiawan
Bergelar :
Dr. NYOTO, SE, SH, S.I.Kom, MH, MM, M.M.Pd, M.I.Kom, Ph.D

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan

2 Komentar
  1. Wahid mengatakan

    Jadi masalah cerita angpao itu bagai mana pak apakah ada kaitan nya dengan sedekah …..

    1. nyoto mengatakan

      Angpao adalah amplop merah yg melambangkan kebahagiaan. angpao bukan sedekah tetapi bagian dari pernak pernik Imlek semata. Utk bbrp kasus sprt perkawinan angpao terkadang diisi emas.