Mozaik : Selayang Dari Negeri Laskar Pelangi

Selayang Dari Negeri Laskar Pelangi

Sepuluh tahun lalu, persisnya 27 April 2011 untuk pertama kalinya kaki saya menginjak Pulau Belitung. Dengan menumpang feri cepat Palembang – Belitung, ternyata memakan waktu perjalanan seharian juga. Berangkat dari pelabuhan kapal Boom Baru Palembang sekitar jam 7.30 pagi dan tiba di Belitung sudah magrib. Memang, perjalanan tidak sepenuhnya dengan kapal feri tetapi sempat dikoneksi melalui bus di pelabuhan Muntok. Pulau Belitung, orang setempat menyebutnya Belitong (dialek Melayu tempatan), dan dulu dikenal pula sebutan Billiton.

Pulau Belitung terletak di pesisir pantai timur pulau Sumatra terkenal sebagai penghasil  lada dan tambang tipe galian-C seperti timah putih, pasir kuarsa, tanah liat putih (kaolin), dan granit. Jadi jangan kaget juga bila di pulau itu dijumpai danau-danau besar bekas galian. Terkadang indah juga danau-danau bekas galian itu, airnya membiru karena pantulan langit pada permukaan air. Namun setelah lahir sebuah film Laskar Pelangi yang diangkat dari novel Andrea Hirata  dirilis tahun 2008, Belitung lebih terkenal sebagai “Pulau Laskar Pelangi”. Film Laskar Pelangi yang berkisah tentang murid-murid Sekolah Dasar Muhamadiyah Gantong dengan setting tahun 70an memang mengisi kenangan para penikmatnya yang masih memiliki ikatan emosional diseputaran Belitung tahun 70an. Situasi jalan, rumah, para pekerja, guru, transportasi hingga aktivitas ekonomi yang digambarkan dalam film tersebut sangat menggugah kenangan masa lalu.

Dalam catatan saya, 28 April 2011 saya sempat berkunjung ke replika SD Muhamadiyah Gantong yang dijadikan properti shooting film Laskar Pelangi. Hari itu juga saya sempat bertanya tentang sosok ibu guru Muslimah yang diperankan oleh Cut Keke. Informasi yang saya dapat, Bu Muslimah mengajar di SD  Negeri 6 Gantung  yang jaraknya tidak begitu  jauh dari SD Negeri 9 tempat Riri Reza dan kawan kawan ber-action. Maksudnya, lokasi shooting film Laskar Pelangi itu ada di seputaran halaman dan seberang jalan SD Negeri 9 Gantung. Suatu langkah baik, saya diperkenankan untuk foto-foto dengan anak-anak SD yang  menghebohkan itu dalam kelas bersama Bu Muslimah  sang legendaris Laskar Pelangi. Selanjutnya kami ngobrol tidak begitu lama karena saya khawatir menggganggu jam mengajarnya. 

Pada catatan sejarah Belitung tidak seramai sejarah Bangka khususnya tentang pergerakan orang-orang Tionghoa. Di Bangka kita mengenal Lim Tau Kian, tokoh muslim, Lim Boe Sing tokoh pebisnis, juga Tony Wen salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sungai Liat. Secara umum etnis Tionghoa Bangka – Belitung berasal dari Guandong suku Hakka (Khek). Dan bahasa Hakka mayoritas kita jumpai di Belitung dan Bangka.

Dalam buku Mary F. Somers Heidhues (2008) yang berjudul Timah Bangka dan Lada mentok, buku ini lebih berkisah pada peran orang Tionghoa dalam pembangunan Pulau Bangka. Somers  sama sekali tidak mengaitkan Belitung dalam bukunya, walaupun dibuku tersebut diulas masalah lada Mentok, tapi lada putih Belitung tidak disinggung sama sekali.

Belitung Timur ibukotanya Manggar, dihadapannya hamparan timur selat Karimata yaitu laut barat pulau Kalimantan dan sebelah selatannya Laut Jawa. Jika merujuk pada google map, jarak terdekat Sumatra Selatan – Manggar hampir sama Manggar –  Kalimantan Barat. Jadi jangan kaget jika kita temui banyak pekerja tambang di Belitung berasal dari Kalimantan Barat khususnya etnis Melayu, Dayak, dan Jawa. Pekerja-pekerja tambang ini dapat kita temui diseputaran jalan-jalan utama kota Manggar  misalnya seputaran komplek Bioskop Mega yang jaraknya tidak begitu jauh dari Pasar Ikan. Bioskop Mega ini juga menjadi lokasi pengambilan gambar dari salah satu novel Andrea Hirata yang difilmkan yaitu Sang Pemimpi. Para pekerja tambang ini duduk santai sambil menikmati kopi, ya kedai kopi yang ramai di Belitung menjadi ajang tempat ngobrol para pekerja tambang yang sedang libur. Suasana kedai kopi di kota Manggar mirip suasana kedai kopi yang ada di Kota Bagansiapiapi tahun 90an. Bangunan-bangunan rumah tokonya pun mirip dengan rumah-rumah papan berlantai dua di Bagansiapiapi. Jadi bagi orang-orang yang sudah pernah merasakan suasana Bagansiapiapi 80an atau 90an, nah, kota Manggar hampir menjadi duplikatnya. Tapi secara size teritorial, saya kira Kota Bagansiapiapi lebih luas dan ramai penduduknya.

Hal lain yang menarik dari Belitung Timur ini khususnya Manggar setidaknya karena ulah dua orang ini yaitu Andrea Hirata sang penulis novel Laskar Pelangi yang juga berasal dari Gantung, Pulau Belitung.  Novel Andrea Hirata diangkat menjadi sebuah kisah menarik dalam film Laskar Pelangi yang banyak mengekspos landscape Pulau Belitung khususnya Belitung Timur, Pantai Tanjung Tinggi yang mengekploitasi batu batu granit tua yang terbentu secara alami.di Pantai Tanjung Tinggi  kita akan temui batu-batu granit sebesar-besar gajah dan air lautnya hijau kebiru-biruan. Bahkan ikan-ikan kecil yang ada di sekitaran celah batu granit dapat ditembus dengan mata telanjang karena airnya sangat jernih.

Sejak film Laskar Pelangi booming, sepertinya relevan dengan rasa penasaran wisatawan yang berkeinginan mengunjungi pulau Belitung. Soal makan di Belitung jangan cemas, oleh karena penduduk pulau Belitung mayoritas Melayu, maka kulinernya juga khas Melayu walau ada juga kuliner khas Chinese food. Di Manggar kita akan temui banyak makanan olahan berbahan ikan, seperti pindang ikan misalnya. Jadi, soal selera makan untu Belitung tentu tidak usah dikhawatirkan.

Momentum kedua yang menjadikan orang-orang penasaran akan keberadaan Pulau Belitung adalah karena ulah Ahok. Walaupun cerita yang kedua ini lebih kepada muatan politik, namun orang menjadi tertarik karena Ahok berasal dari Belitung Timur. Memangnya ada apa di sana? Terlebih lagi ketika sosok Ahok alias  Basuki Tjahaya Purnama ini diangkat ke layar lebar, maka semakin menjadikan Belitung sebagai kawasan yang wajib dikunjungi sebagai penuntasan rasa penasaran.

Pada film A Man Called Ahok yang disutradarai Putrama Tuta dirilis tahun 2018 juga banyak mengeksploitasi alam Belitung; aktivitas penambangan, kota Manggar tahun 70an hingga awal 2000an yaitu  ketika Ahok mengikuti kontestasi Pemilu Legislatif 2004 dan Pilkada Bupati Belitung Timur 2005. Ini perspektif panggung politik sang legendaris (juga) dari Belitung Timur. So, sepertinya sindrom Ahok ada juga dampak ekonomisnya terhadap pariwisata Belitung.

Catatan saya terhadap Belitung Timur khususnya kota Manggar adalah bahwa kota ini merupakan kota tambang yang meninggalkan banyak lobang-lobang bekas galian. Fenomena pekerja yang hampir homogen, sudah sepatutnya pula menjaga napas budaya orang-orang pekerja tambang. Ada ratusan hingga ribuan pekerja tambang yang setidaknya memiliki satu budaya yang terbentuk sejak lama yaitu budaya “ngopi”. Apa nilai filosofis yang bisa diperoleh dari fenomena ngopi ini? Ngopi bareng sambil bual-bual adalah peristiwa “temu bual” atau Forum Group Discussion yang tidak resmi namun ada aliran informasi disana. Selain itu, juga terbentuk ikatan emosional antar masyarakat individu terutama sesama pekerja tambang dan ini akan semakin memperkuat tali persaudaraan.

Jadi, ikatan silaturahmi dalam budaya ngopi sesungguhnya bukan nilai ekonomi secangkir kopi, melainkan aroma dan kafein kopi mampu membius masyarakat Manggar menjadi sebuah kelompok masyarakat yang memegang nilai-nilai harmoni.*

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan