Tiras Guru : Membangun Kecerdasan Spiritual di Tengah Pandemi Covid-19 – Yohanes Yuniardi CP, S.Pd.

Pengasuh : Bambang Kariyawan Ys

Membangun Kecerdasan Spiritual di Tengah Pandemi Covid-19

Yohanes Yuniardi CP, S.Pd.
Guru SMA Cendana Mandau

Ada sepenggal lagu dari Ebiet G. Ade yang cukup popular  pada tahun 80 an, dengan judul “Untuk Kita Renungkan”, yang salah satu syairnya bertutur demikian, “Kita mesti telanjang, dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin. Tengoklah ke dalam sebelum bicara, singkirkan debu yang masih melekat ooo, singkirkan debu yang masih melekat, dan seterusnya.

Sadar atau tidak saat-saat seperti sekarang ini memberi gambaran kepada kita betapa kita di hadapkan kepada sebuah fenomena dan keadaan yang benar benar tidak kita duga bersama sebelumnya,  bahwa situasi pandemi covid-19 ini bakal terjadi dan mempengaruhi pada hampir semua aspek dalam kehiduapan kita, besar-kecil, tua-muda, laki-laki-perempuan,rohaniwan-awam,sipil-milter,tanpa kecuali terkena dampak dari pandemi covid-19 tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan ragam reaksi dan tanggapan seseorang atau sekelompok orang terhadap hal tersebut, ada yang bersikap positif namun tidak sedikit yang merespon negatif, ada yang antisipatif, ada yang melakukan usaha-usaha preventif untuk mencegah, namun ada juga yang sangat cuek tidak peduli terhadap fenomena yang terjadi dan bahkan berkecenderungan untuk menyalahkan pihak-pihak tertentu.

Bertitik tolak dari hal tersebut mari kita membangun kesadaran baru untuk berefleksi dan instrospeksi ke dalam diri kita sendiri, menjelajahi relung-relung hati dalam meditasi dan kontemplasi bagaimana harmonisasi relasi antara diriku dengan Tuhan, sesama, alam dan diri sendiri. Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang, demikian penggalan syair lagu yang memberi peringatan dan teguran kepada kita, betapa kita selama ini mungkin terlalu disibukkan dengan hal-hal yang sekuler-keduniawian, hedonisme kenikmatan, eksklusivisme ketertutupan, solidaritas internal, fanatisme negatif yang kesemuanya menodai nilai-nilai luhur yang bisa menjauhkan diri kita dari keutuhan dan kesejatian hidup harmonis baik dengan Tuhan, sesama, alam maupun diri sendiri. Oleh karenanya sapaan penggalan lirik-lirik lagu tersebut bisa kita jadikan pijakan  untuk kembali membangun karakter taqwa, menomorsatukan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita, membangun semangat persaudaraan yang sejati tanpa sekat-sekat ras, agama, kesukuan dan semangat primordialisme yang picik, mengupayakan kerserasian dan keselarasan hidup dengan alam dan membangun citra diri yang positif sebagai insan yang unik, istimewa, bermartabat dan berharga di hadapan Tuhan.

 Sebagai praktisi pendidikan, mari kita didik dan tanamkan karakter-karakter religious, persaudaraan sejati, cinta alam sebab banyak hal yang dapat kita pelajari dari alam “layar terkembang jadi guru”, dan tentunya membangun citra diri para peserta didik untuk tetap percaya diri dan selalu bersyukur atas segala eksistensinya yang telah dianugeraahkan Tuhan kepadanya.

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan