Puisi : Kereta yang berangkat Senja – Karya Husnu Abadi

Kereta Yang berangkat Senja ini
-mengenang seorang ibu

Ada yang berjalan pagi ini
seekor merpati telah kembali ke sarang. Dan di sana tiba-tiba
berjajar wajah-wajah sedih. Seperti ada yang berangkat. Tal ada
yang berkata-kata. Pohon-pohon melempar senyum. Mungkin
senyum terakhir. Memang sangkakala telah bersuara. Betul akan
ada kereta yang lewat.

Tapi betulkah ia akan lewat gerbang ini?
tak ada yang berani memastikan. Seekor merpati telah kembali
ke sarangnya yang indah dan menyenangkan. Ia kembali dari
pengembaraan yang panjang dan melelahkan

Ada gadis manis membawa selembar bunga melati
ia berlari da berlari mengejar kereta yang tengah lewat. Tapi
tangannya tak sampai. Ia terlalu kecil untuk mengejar kereta itu.
Melati itu memang tidak sampai tetapi keikhlasannya telah
membebaskannya dari beban yang meninju-ninju rongganya.

Ada peziarah yang bersenandung sangat merdu
juga sendu. Memanggil sang penciptanya untuk segera membukakan
pintu. Pintu yang sedari pagi ini terkunci. Mungkin kunci itu juga
telah lelah dan letih. Senandung puji-pujian berlalu. Terus berlalu
Mengantar kereta terakhir melawati pintu demi pintu. Tangga demi tangga. Makam demi makam. Liang demi liang. Sebuah liang tanpa jendela
Tanpa Pintu, Tanpa Lentera. Sepi dan sendiri

Kereta itu terus saja tersenyum.
Karena itu meneduhkan alam. Kereta itu kembali berhenti
berharap turunnya sebuah senyuman
Mungkin dari kekasihnya
Ya, Kekasihnya. Sang Pencipta

1996

Untuk pemuatan karya sastra (Puisi, Cerpen, Pentigraf, Esai, Pantun, Kritik, Resensi, Peristiwa Budaya, dan tulisan sastra lainnya) silakan dikirim melalui surel:
redaksi.tirastimes@gmail.com

Berikan Tanggapan

Alamat surel anda tidak akan dipublikasikan